Lena tolong antar pasien ini ke ruangan, ini list ruangannya. Lena dengan cekatan dan penuh semangat mengambil berkas yang ditunjukan oleh temannya.
Siang itu ruang IGD sangat ramai dengan pasien, hal ini mengharuskan kesigapan dan kecepatan semua tenaga medis dan tak terkecuali Lena seorang perawat yang berperawakan langsing namun berisi.
Lena memang terkenal memiliki etos kerja yang sangat bagus. Perawakan tinggi langsing semampai, paras yang cantik, kulit yang bersih sangat terawat menyebabkan banyak pria curi pandang padanya.
Suara langkah Lena terdengar sangat cepat yang menandakan ia tergesa-gesa. Maklum saja pasien yang ia antar ke ruang rawat, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Pasien yang mengalami pendarahan hebat akibat kecelakaan tabrak lari itu kondisinya masih sangat lemah walaupun sudah ada progres membaik setelah ditangani oleh team IGD.
Sekarang Lena sudah akan membelok dari lorong besar menuju lorong lebih kecil ruang rawat pasien. Lena melirik kearah atas pintu yang bertulis Ruang Mawar 10, yang letaknya berhadapan dengan Ruang Mawar 5.
Ranjang pasien yang di dorong Lena membentur pojok lorong sewaktu membelok. Darah infus jatuh dan tergilas roda ranjang pasien, darahpun muncrat membasahi lantai dan pojok dinding dekat Ruang Mawar 01.
Keluarga pasien menjerit histeris melihat kejadian itu. Lena sangat merasa bersalah dan terkejut dengan jeritan keluarga pasien. Lena terjatuh, kepala bagian belakangnya membentur sudut tembok lorong itu. Tak lama kemudian dua orang perawat dengan sigap menangani kecelakaan ini.
Satu orang membawa pasien ke ruang Mawar 10 dan satu orang mebawa Lena ke ruang IGD.
Lena akhirnya siuman dari pingsan yang cukup lama. Suara lirih keluar dari bibir lena, "Maafkan aku teman-teman".
Detak jantung Lena tidak beraturan, ada luka memar di bagian belakang kepala di atas kiri lehernya. kemudian Lena Pingsang lagi, namun kali ini hanya sebentar.
Keluarga dan saudara Lena terus berdatangan dan mendoakan kesembuhannya. Seorang ibu separuh baya tampak sangat sedih membelai rambut Lena.
Setelah tiga hari lena sudah diizinkan pulang dari rumah sakit dan ia mendapat izin istirahat di rumah selama tiga hari juga, dan setelah itu Lena sudah harus kembali pada rutinitasnya sebagai perawat.
Karena peristiwa itu tiap kali Lena melihat pojok tembok lorong Ruang Mawar, tubuhnya bergetar, ada rasa cemas yang begitu besar merasuk ke dalam hatinya. Jantungnya bergegup tak beraturan bahkan acap kali dia membuang muka untuk tidak melihat pojok itu.
Semakin lama kondisi Lena semakin memburuk sampai suatu hari dia tidak mau mengantar pasien walau di ruang lain. Teman-teman Lena ada yang mengerti keadaan Lena, tapi ada juga yang tak peduli, dan Lena tetap dipaksa menjalankan tugasnya.
Sebenarnya dia ingin sekali mengundurkan diri dari rumah sakit ini, tapi mempertimbangkan dia baru tiga tahun bekerja dan belum kering rasanya keringat ayahnya untuk membiayai kuliah keperawatannya.
Trauma karena kejadian itu Lena didagnosa depresi dan anxiety. Nah untuk istilah medis ini penulis kurang mengerti. Yang jelas Lana sudah bolak-balik ke psikolog, psikiater dan bahkan dia sudah pernah menjalani hipnoterapi, tapi keadaannya tidak juga membaik, mungkin karena sumber penyebab depersi dan anxietynya selalu dilihat dan dia tidak mampu mentolelir kesalahanya.
Siang jumat itu, perawat jaga masih sedikit. Ada yang istirahat makan dan ada yang sembahyang. Hanya Lena dan beberapa perawat yang ada. Ada mobil ambulan membawa pasien yang kondisinya mirip dengan pasien yang dia bawa ke ruang mawar 10 waktu itu. Dada Lena berdegup kencang, tapi kondisi memaksa dia harus membawa pasien menuju ruang IGD.
Berturut-turut selang waktu yang singkat beberapa ambulan meraung memanggil tenaga medis, dengan demikian ruang IGD menjadi sangat sesak. Lima pasien baru kondisinya sangat kritis.
Pasien yang pertama akhirnya telah dapat di pindahkan ke ruang rawat.
Lena berdoa dalam hatinya agar bukan dia yang mengantar keruang rawat.
Tapi apadaya perawat jumlahnya sedikit, yang mau gak mau harus ia lakukan. Tangan Lena bergetar hebat begitu dia melihat list pasien itu, matanya membelalak membaca nama pasien dan nama ruangan. Sangat jelas Ruang Mawar 10. Seketika mukanya pucat ia membayangkan kejadian enam bulan yang lalu.
Dengan sangat terpaksa secara perlahan ia mulai mendorong, kaki dan tangan Lena lemas lunglai, Kecemasan yang berlebih menyebabkan konsentrasinya buyar. Pojok belokan ruang mawar semakin dekat, pandangan mata Lena semakin buram.
Tepat ranjang pasien membentur sudut dinding, pandangan mata Lena gelap total dan dia terjatuh tidak sadarkan diri.
Setelah sadar Lena melihat Ferdi di samping ranjang tempat dia berbaring. Syukurlah kamu sudah sadar sayang, kata Ferdi. Aku sangat cemas dengan keadaanmu.
Istirahatlah Len aku akan menemanimu di sini. Tugas jagaku nanti malam sekarang aku dapat sepuasnya menemanimu.
Lena hanya tersenyum tipis memandang wajah kekasihnya yang tampan. Suara lemah keluar dari bibir Lena, "Fer terimakasih, selama tiga tahun kita pacaran, aku selalu merepotkanmu".
Sudah tiga bulan Lena terbaring di ruang rawat inap, Kondisinya semakin lemah, Takikardia aritmia kata dokter yang merawatnya, detak jantung yang tidak beraturan, kecemasan yang berlebih penyebabnya.
Dia murung dan sulit sekali dibujuk untuk makan. Lena lebih banyak tidur dan sekalinya bangun kepalanya sakit, pusing tujuh keliling, muntah warna kuning hijau. Kondisinya sekarang sangat memprihatinkan, dia harus berjuang melawan sakit fisik maupung mental.
Ferdi memang type cowok yang sayang dan sangat setia. Mungkin kalau orang lain sudah jengkel campur marah karena pengorbanannya tak dianggap sedikitpun oleh Lena. Ferdi tetap menemani dengan tabah walaupun sering kali diusir oleh Lena.
Ferdi maklum dengan kekasihnya yang sedang depresi dan anxiety. Ia harus tabah menemani sampai akhir apapun yang akan terjadi.
Yang paling menyakitkan Ferdi, ketika Lena sadar dan mengatakan "Itu bukan aku Ferdi, aku tidak jahat, aku tidak tau mengapa aku begitu, Aku sakit Ferdi, Aku capek, Aku mati saja. Aku tidak kuat... aku... aku... aku..."
Lena menangis sejadi-jadinya sambil menjambak rambutnya sendiri, memukul kepala, dada dan perutnya. Kakinya dihentak-hentakkan di kasur hingga selang infus lepas berkali-kali.
Ferdi hanya bisa memegang tangan dan memeluk kuat kekasihnya agar tidak terjatuh dari ranjang pasien.
Setelah itu kepalan tangan Lena melemas, tubuhnya melemas, gigitan pada bibirnya lepas dan menyisakan darah mengalir tipis, lalu pingsan lagi.
Sekitar pukul dua dini hari, Ferdi tertidur dengan posisi duduk dengan kepala miring kearah wajah Lena. Ia terlalu letih, ada tetesan air liur membasahi kasur pinggir ranjang Lena.
Ibunya Lana dan yang lainya, ada yang tertidur di lantai, ada yang di kursi di luar ruang rawat, mereka semua tampak begitu letih tapi tak menyerah hingga sekarang sudah tepat enam bulan Lena dirawat.
Tangan lemahnya Lena meraih tangannya Ferdi yang tertidur. Ia berbisik "Terimakasih Fer atas semua kebaikanmu, dan maaf aku tidak bisa menemanimu selamanya. Kamu juga berhak bahagia"
Tiba-tiba Ferdi terbangun merasakan lembutnya jari-jemari Lena, dilihatnya pipi Lena basah dengan air mata. Ferdi pun terisak tangis "Len kamu akan baik-baik saja, kamu kuat. Bertahanlah, setidaknya demi aku".
Ferdi... "aku dingin sekali, peluklah aku, semua cinta dan kasih sayangmu akan kubawa selamanya dan aku berjanji bila ada kehidupan lagi aku akan ada hanya untukmu".
Setelah mengatakan itu tubuh Lena bertambah lemah, pandangan matanya menjadi gelap, hanya telinganya yang masih mendengar sayup-sayup. Sebelum mengucapkan "Selamat tinggal Kasihku, Suara lirih masih terdengar mengucap nama suci Tuhan. Lalu diam.
Lenaaaa... Ferdi berteriak memanggil nama kekasihnya, ia menguncang-guncangkan tubuh kurus lemah itu. Jangan tinggalkan aku, kita akan bersama selamanya.
Seketika ruangan yang tadinya sepi jadi riuh dengan jerit tangis. Seorang dari mereka berlari keruang perawat jaga untuk meminta pertolongan dokter.
Dokter jaga memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Lena yang lunglai. Kemudian mengusap muka Lena kearah bawah agar mata sayu itu tertutup. Isak tangispun semakin terasa saat dokter menutup sekujur tubuh Lena dengan kain putih bergris hitam.
Setahun telah berlalu sejak meninggalnya Lena Agustine, Ferdi masih selalu terbayang bagaimana dia menemani Lena berjuang melawan sakitnya.
Sesekali Ferdi turun ke lantai satu dimana biasanya Lena dengan sigap melayani pasien di ruang IGD.
Tanpa sepengetahuan Ferdi, Lena dengan dimensi lainnya selalu menyertainya. Ia tau apa yang dirasakan Ferdi, tapi dia tidak mempunyai kemampuan menggapai kekasihnya, bagaikan ada tembok tebal yang transparan memisahkan mereka.
Lena terasa tersayat hatinya ketika mendengar Ferdi menyebut namanya dengan lembut. Ia berteriak sekuat-kuatnya tapi tak ada yang mendengar.
Hai Kak Ferdi aku diterima bekerja disini, dan ini adalah hari pertamaku bekerja. Leni tampak manja menyapa Ferdi.
Mata Ferdi serasa mau keluar membelalak memandang Leni Agustine yang sangat mirip dengan Lena Kakaknya.
Mereka sudah beberapa kali bertemu sewaktu Lena dirawat setahun yang lalu.
Dalam hati Ferdi bergumam "Luar biasa... serasa aku melihat Lena tiga tahun yang lalu, mirip sekali". Ya memang Leni tiga tahun lebih muda dari Lena.
Ferdi memandang dari ujung sepatu hingga ujung ikat rambut Leni, Kak... kak ngelamun ya? tanya Leni.
Semakin lama mereka semakin akrab, mereka bercerita banyak hal, kadang mengenai pekerjaan, masa-masa di kampus, kebersamaanya dengan Lena dan lainya. Ada perubahan raut muka yang disembunyikan oleh Leni ketika Ferdi terhanyut dalam ceritanya bersama Lena.
Ya memang, tidak dapat dipungkiri kehadiran Lena di hati Ferdi begitu membekas. Lena sering timbul dan tersenyum dalam lamunannya. Sampai hari kemarin Ferdi tidak ada gairah untuk dekat dengan gadis lain, Tapi lain hari ini dengan munculnya Leni yang memiliki paras dan tubuh yang nyaris sama dengan Lena.
Jika saja bukan seorang Ferdi yang begitu mengenal Lena, mungkin sulit untuk membedakannya, hanya ada satu yang sedikit berbeda, Lena lebih dewasa sehingga Leni tampak lebih manja karena dia lebih muda dan berstatus anak bungsu dari dua bersaudara.
Mereka semakin dekat. Belum seumur padi Leni diterima sebagai perawat, di hati Ferdi telah mulai ada perasaan yang sulit ia mengerti. Ada segudang pertanyaan di hati Ferdi,
Apakah ini cinta lama yang bersemi kembali ataukah benih cinta yang lain yang mulai berkecambah?.
Bagai mana kalau cinta ini ternyata milik Lena?, Akan mampukah aku menerima Leni sebagai Lena?
Apakah aku nantinya tidak membanding-bandingkan antara Leni dan Lena?
Apakah aku tidak menghianati cintanya Lena?
Apakah Lena di alam sana akan menerima ada cinta lain di hatiku?
Apakah aku tidak berhak untuk memulai membuka hatiku pada Leni?
Dan pertanyaan-pertanyaan lain kerap kali datang, yang membuat Ferdi sulit menentukan sikapnya.
Seperti biasa para perawat sibuk melayani pasien baik pasien lama maupun pasien yang baru masuk. Di sela-sela kesibukan itu Leni mendekati Ferdi dan bertanya. Kak kenapa muka kak Ferdi pucat? kurang tidur ya?. Mikir apa ayo...? Mikirin Leni ya?. Ferdi tersenyum simpul, semakin nyata ada celah yang diberikan untuk masuk kehatinya.
Kak Ferdi ngelamun lagi ya? ataauuu belum bisa move on dari kak Lena?. Seketika Ferdi tersentak bak di sambar petir mendengar pertanyaan Leni yang sedikit manja dan memberi lampu hijau.
Karena kesibukan yang begitu padat, malam ini Ferdi tidur lelap lebih awal, ia terhanyut dalam mimpi haru bersama Lena. Lena bak bidadari menari lemah gemulai timbul tenggelam di balik awan putih yang diterpa sinar rembulan.
Lena mendekati Ferdi sambil tersenyum dan duduk di sampingnya, lalu berkata "Cintai adikku seperti kamu mencintaiku". Ia melanjutkan kata-katanya "dalam kehidupan yang lain kita akan bersama selamanya dan tak ada yang memisahkan".
Ferdi belum sempat menjawab apa yang dikatakan pujaan hatinya, bayangan Lena memudar dan akhirnya hilang.
Tersentak Ferdi terbangun dari mimpi yang menyisakan kerinduan yang sangat dalam. Ferdi duduk dikasur dengan kedua lutut ditekuk dan kepala terbenam di sela lutut. Ia sesekali melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua lewat tigapuluh menit dini hari.
Malam ini terasa lambat sekali, ia coba melupakan mimpinya, tapi sia-sia saja. Semakin ia ingin memejamkan mata semakin jelas mimpi tadi.
Ia teringat apa kata orang jika mimpi tengah malam penuh dengan arti. Ia mencoba menerka-nerka apa arti mimpinya tadi.
Ferdi berangkat ke rumah sakit pagi-pagi sekali tidak seperti biasanya. Ia ingin menceritakan mimpinya pada Leni. Ternyata Leni telah lebih dulu menunggunya di depan pintu IGD.
Kak aku tadi malam mimpi tentang kak Lena. Ferdi memandang tajam mata Leni. Aku juga, makanya aku berangkat pagi-pagi sekali karena aku ingin cerita denganmu. Bagai mana kalau kita makan malam di kafe Milenia nanti malam. Ada yang ingin aku sampaikan padamu.
Sekali lagi Ferdi membuka tas kecil yang di slempang dibahunya. Dia lihat isi dompetnya seperti stnk, sim, uang kes dan terakhir atmnya. Yes lengkap, Ferdi tersenyum.
Sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam lewat empat puluh tiga menit, ia menulis sesuatu di buku diarynya, setelah itu segera memasukan ke dalam tas slempangnya bersama setangkai bunga mawar yang wangi menggoda.
Jaket wangi, helm, sepatu keren. Cuss motor distarter. Ferdi dengan tersenyum di atas motor yang larinya tanggung sekitar lima puluh kilometer perjam. Ia membayangkan indahnya pertemuan, karena ia tau cintanya tidak akan bertepuk sebelah tangan.
Dalam lamunan indah itu tiba-tiba mobil coldiesel bermuatan tanggung mendahuluinya. Pojok bak belakang coldiesel itu menyenggol stang sebelah kanan motor Ferdi.
Ferdi terjatuh kepala dengan helm monyetnya terbentur keras di aspal, dalam waktu sangat singkat mobil pick up yang melaju kencang yang ingin mendahuluinya, rodanya tepat menggilas paha Ferdi.
Polisi dan orang yang ada disekitar itu berkerumun melihat kecelakaan tragis itu. Polisi menghubungi ambulance dan orang-orang yang ada di buku diary dan ponselnya.
Bersamaan datangnya ambulance Leni juga sampai di lokasi itu. Leni memangku kepala Ferdi yang terkulai lemah.
Ditengah kerumunan itu Ferdi berkata lemah pada Leni yang memangku kepalanya. "Selamat tinggal Leni".
Di saat mata Ferdi mulai meredup Leni melihat sosok Lena kakaknya bergaun putih datang meraih tangan Ferdi dan membawanya ketempat jauh.
Pengantar pemakaman telah meninggalkan gundukan tanah merah yang dibawahnya Ferdi istrirahat dalam damai selamanya. Leni masih duduk lemah tersedu sambil membaca buku diary milik Ferdi.
TAMAT
0853 5789 7777
Cintai adikku seperti kau mencintaiku
Cerita pak nawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar