Hari ini saya ingin memperkenalkan keluarga saya, saya sendiri bernama Nawa Sudiro saya memiliki seorang istri yang sangat baik bernama Warti anak pertama saya bernama Chandra dan yang kedua Mayi, kedua anak saya perempuan selisih usia mereka terpaut sembilan tahun.
Oh ya ingin saya katakan cerita ini hanya fiktif belaka. Baik nama, tempat maupun waktu yang di sebutkan di Nawa Family hanya karangan belaka. Semoga cerita di Blog Cerita Pak Nawa dapat menghibur.
Izin promosi
Bagi teman-teman yang membutuhkan aplikasi timbangan untuk baik lapak singkong atau lapak sawit atau untuk pabrik silahkan klik "Download di sini"
Yuk kita lanjutkan....
Sekarang Chandra masih kuliah di ITERA sebuah perguruang tinggi di Lampung, sedangkan Mayi masih duduk di SMP kelas 7. Nah sekarang saya lanjut cerita tentang saya. Orang manggil saya Pak Nawa seperti yang saya sebutkan di atas nama lengkap saya Nawa Sudiro he he he keren kan?.
Saya seorang petani yah di bilang miskin banget ya gak, dibilang kaya ya jauuuuh artinya gak kaya, oke lah kehidupan saya sedang-sedang saja. Walau seorang petani, saya jarang keladang, saya lebih suka mempekerjakan orang. Ini bukan karena bos loh, tapi emang tradisi di sini emang gitu. Gak mampu urus ladang sendiri, kan gak mungkin ladang kita cangkul sendiri, kapan seleesainya? ha ha ha. Terpaksa kita sewa bajak, Saya orangnya ringkih gak bisa kerja berat, seperti yang lain bisa nyeprot rumput, tanam singkong atau yang lain. Kalau saya gak gak gak banget, saya sering masuk angin. dikit aja kecapean dah minta di kerik badan dimandiin semua pakai balsem. Hah pokoknya bau kakek kakek dah.
Ayo coba tebak saya punya berapa hektar tanah ladang?...
2 hektar?
4 hektar?
10 hektar?
100 hektar?
Ayo berapa?
100 hektar ya. Ya bener. Maksudnya benar-benar SALAH. ha ha ha he he he. Jujur saya punya 12 hektar. Walau pun ini saya bilang jujur kan tadi saya bilang ini cuma cerita fiktif. Artinya jujurpun masih bohongkan.
Oke sekarang saya tanya lagi APAKAH SAYA PUNYA MOBIL?
Ya tentu dooonk. Tapi mobil apa kira-kira?
Oooo Sepertinya mobil-mobilan.
Tentu ya kan?
Ya bener....
Maksudnya bener-bener SALAH laaah.
Yang bener saya punya satu buah fortuner tua tahun 2012 warna putih dan saya juga punya satu buah pick up L300 warna hitam tahun 2014. L300 dari baru loh saya beli gresss dari deler. Harga waktu itu 157 jt kess harga ini sama dengan harga avanza kala itu. Weeee mantap toh, artinya keluarga Nawa gak miskin-miskin banget tapi nggak kaya juga.
Ingat cerita ini cumaaa fiktip belaka.
Sekarang saya ingin cerita tentang istri saya yang sangat cantik jelita versi Pak Nawa. Yang jelas namanya perempuan pasti cantik masaaak ganteng. Warti orangnya sangat sederhana dia hari-harinya sibuk urus rumah, cuci-cuci, masak bolak balik layanin orang belanja. Oh ya kami juga punya warung kecil. Terkadang Warti keladang ngawas orang mupuk atau cabut-cabut rumput mengisi kesenggangan waktu.
Nanti saya akan banyak cerita tentang Warti. Oh ya hari ini Warti Ulang tahun loh, Begitu saya bagun yang agak kesiangan karena semalam ronda, saya lihat ada notifikasi di Facebook katanya hari ini Warti Ulang Tahun, Saya sendiri sebagai suami lupa kalau sekarang tanggal 14 maret, untung Mr Facebook mengingatkan sehingga saya keliatan romantis baru bangun langsung ngucapain selamat ulang tahun ya sayaaaang.
Hah Warti langsung senyum-senyum saya kira dia senang. Ealah dia langsung bilang ngucapin selamet karena lihat Facebook kan. Saya ngeles donk, saya bilang uuhh dah saya persiapkan kejutan dan saya rencanakan ngucapin langsung begitu bangun tidur.
Mungkin dah menjadi aturan yang gak tertulis bahwa anak terakhir lebih manja, apa aja yang diminta sulit di tolak. Sebenarnya Pak Nawa gak begitu suka kucing. Melihat kakanya pelihara kucing Mayi juga ikut-ikutan pelihara kucing. Untung Caiko kucingnya Chandra dibawa ke kost jadinya di rumah cuma ada satu kucing.
Satu aja si Kanha udah membuat repot mesti beliin makanan, bersihin WCnya,
mesti mandiin. Pokoknya tambah lumayan repot. Tapi lama-kelamaan Pak Nawa dan
Bu Warti keliatannya jadi sayang juga ama kucing.
Emang lucu juga sih si kanha. Sepertinya kalau di hitung waktu dia banyakan
habis untuk tidur aja. Terkesan manjanya itu kalau kita pagi-pagi subuh bangun
dari tidur dia selalu nunggu di depan kamar Pak Nawa bukan depan kamar Mayi padahal
yang sering ngurus Kanha ya si Mayi tapi kenapa yang di tunggu seringan Pak
Nawa dan Bu Warti aneh toh.
Kanha selalu manja berguling-guling seakan senang ketemu dengan tuan dan nyonya
besar. yaaa seakan mengucapkan selamat pagi tuan dan nyonyaaa.
Tadi siang Mayi datang dari sekolah langsung makan siang terus masuk kamar
pengen istirahat, katanya lelah pelajaran Matematikanya bikin capek mana ganti
guru lagi kata Mayi. Nah Pak Nawa nemenin Mayi sebentar sambil menunggu
ngantuknya Mayi. Eh tiba-tiba Kanha datang berlari loncat-loncat kegirangan,
Gak tau apa penyebabnya. Seperti biasa dia berguling-guling di lantai
menunjukkan manjanya, Karena Mayi mau tidur di doronglah Kanha pakai kaki,
mungkin Kanha gak terima di dorong. Kanha mengeong melolong panjang dan
memegang kaki Mayi pakai kedua tangannya. Kuat sekali tangan Kanha pegang kaki
Mayi dan tah bagaimana Kanha gigit kaki Mayi, untung saja gak luka.
Kata Mayi, Kanha emang begitu kalau dia marah. Pak Nawa heran rupanya kucing
juga punya harga diri gak terima di dorong dan diusir. Weleeeeh Pak Nawa sampai
geleng-geleng kepala.
Setelah tidur siang Mayi langsung main sebentar bersama teman-temannya seperti
Rohdiah, Gorel dan Nani. Sambil bersepeda mereka berempat cari jamur kuping di
ladang tetangga, Bawanya sih plastik kresek besar pulang-pulang cuma bawa
setengah genggam. Tak apalah, biasa dikeringkan dan dikumpulkan sampai cukup
untuk di goreng dan ditambah sedikit garam sudah cukup bagi Mayi untuk
menghabiskan jatah nasi makan siang bapaknya.
Menjelang magrib tersentak Mayi ingat dia ingin belajar piano, segera jari-jari
kakunya menghentak-hentak tut-tut piano. Pak Nawa senyum-senyum mendengar suara
fales yang dipaksakan keluar menyanyikan lagu a thousand years yang penyanyi
aslinya christina perri.
Ada yang lucu di hari ini tentang Pak Nawa. Pak Nawa kan tadi malam pulang
subuh dari ronda sekitar jam tiga subuh. Sambil merebahkan tubuh di kasur Pak
Nawa membaca pengumuman di group WA "Kepada semua warga Kampung Damai di
harapkan besok pukul 18.30 hadir di rumah Pak Tejo untuk pembentukan panitia
pernikahan".
Pak Nawa terlambat datang ke rumah Pak Tejo, dia berngkat pukul 20.30,
rupa-rupanya Pak Nawa benar-benar lupa dengan pengumuman itu. Rumah Pak Tejo
sepi benar-benar sepi. Karena takut malu dengan Pak Tejo, Pak Nawa memutuskan
tidak jadi menghadiri rapat pembentukan panitia pernikahan. Pak Nawa menemui
Pak Dharmo Seto yang merupakan Kapala Dusun di Kampung Damai.
Pak Nawa bertanya "Pak Dharmo saya tadi lupa ada pembentukan panitia, Saya
dapat seksi apa?" Pak Dharmo tersenyum, dan berkata "Rapat itu besok
Pak Nawa". Pak Nawa tersentak malu dan bersyukur.
Akhirnya terjadi
perdebatan, Pak Nawa menyalahkan Pak Dharmo membuat pengumuman tidak ada
tanggal dan harinya. Coba bayangkan kalau Pak Nawa jadi bertamu kerumah Pak
Tejo, pastinya Pak Nawa akan lebih tersipu malu lagi. Tapi bersyukur rapat
pembentukan panitia tidak hari ini, sehingga tidak di cap tidak hadir.
Yang jelas Pak Nawa sampai tidak kerja memenuhi panggilan service timbangan
demi menghadiri rapat pembentukan panitia. Tapi Entah bagaimana pas sore Pak
Nawa bisa lupa dengan pengumuman itu. Syukur juga rapat diadakan besok hari
rabu.
Nah ini jadi pelajaran, kalau buat pengumuman mesti lengkap tanggal, hari dan
waktunya. Begitu juga kalau kurang jelas kita mesti bertanya dengan teman atau
tetangga kalau kita tidak mau kecele.
Dari sekarang dan seterusnya penulis akan menggunakan kata "Saya" untuk mewakili Pak Nawa.
Pengen curhat jadinya. Akhirnya ketahuan juga selain saya seorang petani saya
juga punya usaha perakitan timbangan mobil, menjual sparepart timbangan mobil
sekaligus menerima panggilan perbaikan timbangan mobil.
Hari-hari rasanya sangat jenuh, hari-hari menunggu yang tidak pasti. Kenapa
saya bilang tidak pasti?
Ya. Karena rusaknya timbangan kita tidak tau kapan, dan juga kita kan gak boleh
mendoakan timbangan orang cepat rusak demi keuntungan kita.
Kalau dulu memang lumayan penghasilan dari jasa service timbangan, tapi
sekarang kondisi sudah berbeda. Sekarang ilmu apa saja sudah terbuka lebar dari
hadirnya internet sampai kepelosok-plosok kampung.
Pesaing di bidang ini sudah tumbuh seperti jamur di musim hujan. Sekarang hanya
di butuhkan mental dan kemauan untuk mengasah diri, semua pasti bisa dengan
ilmu yang terbuka lebar.
Sampai sekarang saya masih bertahan walau tertatih dan merangkak akibat dari
gempuran komonitas yang baru tumbuh.
Masih ada pelanggan-pelanggan lama yang setia dan tidak tergoda dengan
iming-iming harga yang under ground. Mereka lebih percaya dengan pelayanan yang
saya berikan.
Strategi yang saya gunakan untuk bertahan di usaha ini, saya minta
kontak-kontak relasi dari pelanggan setia saya atau istilah orang dari teman ke
teman. Selain itu saya menggunakan medsos sebagai sarana promosi baik yang
gratisan maupun yang berbayar.
Yah kita mesti pintar-pintar memelihara hubungan baik pada siapapun dan senyum
merupakan senjata ampuh agar kita diterima.
Ini sudah seminggu tak ada pemasukan dari usaha timbangan ini. HP berdering
tapi hanya konsultasi saja, karena sudah bisa dipandu via telpon saja.
Walau jenuh menunggu, tapi kalau dihitung usaha ini banyak sukanya. Saya bisa
jalan-jalan kemana saja seluruh indonesia bersama istri, dan enaknya transport
di biaya oleh pelanggan.
Sedatang saya dari Konawe-Kendari Sulawesi tenggara saya baru dapat dua kali
panggilan yaitu tera timbangan di Kalibening Pekalongan dan satu lagi di Gajah
Perkasa Mesuji.
Seperti hari ini belum juga HP berdiring sekalipun, daripada pusing memikirkan
panggilan yang tak kunjung datang, saya lihat-lihat pembukuan semua ladang di
file excel sehingga tau apa yang mesti saya kerjakan untuk masing-masing
ladang.
Ternyata keuangan ladangpun sudah nipis, seperti ladang plasma berpeluang
boncos alias merugi. Biaya yang dikeluarkan untuk beli kohe ayam, sewa bajak,
tanam sudah terlalu besar tapi ladang terendam air karena curah hujan yang
besar. Di luar dugaan, yang biasa bulan maret hujan sedang-sedang saja, ini
seperti musim hujan di bulan Januari tahun-tahun lalu.
Tidak bisa berbuat apa hanya sabar dan berserah diri. Terkadang saya ngejokes
sama teman-teman "Kalau saja ada pemilihan dewa hujan, tentu saya pilih
kamu yang berasal dari petani yang pastinya tau bagaimana susahnya jadi
petani".
Sheet-sheet pada excel yang merupakan pembukuan ladang, saya baca dengan
teliti. Disitu saya lihat ladang Pidada sudah siap untuk di panen. Tapi apa
daya sekarang harga singkong sangat rendah. Ladang inipun harap-harap cemas,
gemana tidak. Biaya oprasionanya sangat tinggi karena diberlakukanya kebijakan
pemerintah bahwa sektor perkebunan termasuk singkong tidak mendapat subsidi
pupuk.
Terkadang kebijakan tidak mampu menaungi semua rakyat. Pihak berwenang tidak
faham bahwa tidak semua wilayah bisa ditanami padi atau jagung. Tak mungkin
menanam jagung di rawa. Agar lahan bisa produktif tentunya ditanami tanaman
keras seperti sawit, karet atau singkong kalau air surut. Sekali lagi sektor perkebunan
tidak mendapat subsidi.
Swasembada pangan memang baik, tapi coba kita kaji, komoditi seperti sawit,
singkong maupun karet juga penting. Beberapa teman bilang kita tidak takut
tidak dapat subsidi asalkan adil semua sektor tidak disubsidi. Perlu difahami
tidak semua petani karet, sawit atau singkong adalah perusahaan besar. Nah
seperti saya dan teman-teman saya yang lain paling hanya memiliki beberapa
hektar.
Cobalah sesekali datang ke petani singkong misalnya tanya berapa harga singkong
sekarang?, harga singkong sekarang hanya Rp 1280 potongan 26% bahkan sampai
30%. Nah ini menyebabkan kesejahteraan tidak merata.
Ya sudahlaaah… Kembali ke pepatah ayam saja tidak sekolah bisa hidup, masak
kita manusia tidak. Artinya kita mesti pintar-pintar mencari peluang dan
tumbuhkan mental positif.
Hidup seperti air mengalir saja, ini berarti
apapun yang saya kerjakan akan memiliki kelanjutannya. Aliran sungai semakin ke
hilir semakin banyak cabangnya. Tugas kita hanya memilih cabang mana yang
paling baik untuk menghanyutkan kita.
Karena saya dahulu pernah bekerja di perusaan timbangan, tentunya saya memiliki
keahlian di bidang timbangan.
Dari keahlian ini, saya mendapatkan banyak relasi, saya bina hubungan baik
dengan mereka. Saya buat prinsip pada diri saya “Saya tak akan pernah merugikan
dan mengecewakan orang lain”.
Dari prinsip ini menjadi karakrer selanjutnya menjadi merek pribadi saya, yang
menumbuhkan kepercayaan yang sangat kuat pada diri saya oleh semua relasi saya.
Kepercayaan yang di berikan, saya pelihara dengan sebaik-baiknya.
Tepatnya di bulan juni 2022, seorang pelanggan bernama Pak Firmano menelephon
saya dan katanya “Pak saya lagi tidak di lapak, lapak saya ada trauble, tolong
diperbaiki”
Setelah saya lakukan pengecekan pada seluruh perangkat timbangan baik loadcell,
kabel, indikatornya, maupun perangkat komputernya.
Keadaannya sangat menyedihkan, angka yang di tunjukan oleh indikator selalu
bergerak-gerak yang diakibatkan kabel loadcell terlalu pendek sehinnga air
masuk ke loadcell lewat kabel.
Kondisi CPU juga sudah teramat tua, prosesor panas sekali menyebabkan CPU hidup
sebentar lalu mati lagi. Tunggu dingin bisa hidup sebentar begitu seterusnya.
Hardisk sudah tak terbaca. Sudah berbagai usaha saya lakukan agar hardisk
terselamatkan, Tapi sia-sia juga.
Printer LX300 mati total, maklum printer inipun sudah berusia 120 tahun kalau
manusia, artinya tua banget. Kita tau printer type ini sekarang sudah tidak di
produksi lagi.
Saya ceritakan pada Pak Firmano kondisinya, Kata Pak Firmano “Itu yang mau
pakai Pak Rudi dan Eva pak, coba ngobrol dengan Eva”
Waduh ruwet, Pak Rudi yang kata Eva ada dana untuk buka lapak singkong ternyata
sama sekali gak ada.
Eva sudah terlanjur panggil saya, dan masyarakat sudah tau lapak akan di buka.
Saya tau itu, Eva dalam kesulitan. Dana untuk perbaikan timbangan, dana saldo
untuk pembelian singkong sama sekali tidak ada, Tapi kalau tidak jadi lapak
dibuka, pasti malu sampai tulang rusuk.
Saya tawarkan kerja sama dengan MoU
1. Dana perbaikan timbangan tidak usah di bayar
2. Dana saldo untuk pembelian singkong saya yang menyediakan.
3. Bila terjadi kerusakan berikutnya menjadi tanggungan saya
4. 25% hasil dari DO menjadi hak pengelola lapak
5. Seluruh laba lapak menjadi hak pengelola lapak
Dengan MoU ini berarti saya berhak 75% dari DO saya. Saya sangat bersyukur
dengan investasi ini saya memiliki pasif income yang lumayan besar bagi saya,
yang nilainya rata-rata di atas sepuluh juta per bulannya.
Jujur saya katakan dana untuk saldo pembelian singkong saya peroleh dari
pinjaman dana pabrik teman saya namanya koh David. Pinjaman ini tanpa bunga,
Koh David memang tulus membantu saya. Saya kenal dengan keluarga besar beliau
sekitar tahun 2000 saya tidak ingat persis bulannya.
Dunia ini memang aneh, terkadang orang lain baiknya seperti saudara sendiri,
Entah bagaimana suatu saat saya dapat membalas budi pada keluarga besar beliau.
Di kemudian hari saya ada rencana membangaun lapak dengan sistem kerja sama
seperti ini dan sekarang saya sedang mengumpulkan dana dari 75% hasil DO ini.
Kedepannya inilah usaha favorit saya.
Mungkin benar apa yang kita katakan adalah doa, pasalnya empat hari yang lalu saya telpon mas Hendrik kata saya "Mas kapan panggil saya?".
Saya menghubungi mas Hendrik sebenarnya hanya untuk menyambung tali silaturahmi
dengannya. seperti biasa tanya kabar dan memastikan nomor kontak masih yang
dulu.
Tidak diduga terdengar panggilan telpon dengan kontak tertera nama mas Hendrik.
Terdengar diujung sambungan sana mas hendrik berkata "Pak Nawa posisi di
mana? kata saya ada mas di rumah lagi buat pesanan aplikasi timbangan.
Intinya mas Hendrik minta saya ke lapaknya, katanya timbangannya error. Tentu
saya bilang siap mas, saya segera meluncur.
Sesampainya di sana mas Hendrik menyambut saya dengan senyam-senyum, sayapun
membalas dengan senyum sembari menjabat tangannya dalam salam gengangaman erat
dan hangat sebagai tanda persahabatan yeng kental.
Perlu saya sampaikan mas Hendrik merupakan pelanggan setia saya. kami
berkenalan sekitar tahun 2012 sewaktu mas Hendri pertama kali bekerja menjadi
karyawannya pak Nyoto. Mas Hendri bekerja sebagai operator timbangan.
Pengalaman menjadi operator timbangan inilah menjadi cikal bakal mas Hendri
akhirnya sukses dan sekarang menjadi owner beberapa lapak singkong.
Kembali ke cerita panggilan service, Setelah salaman kami berbincang penuh
gelak tawa flashback menceritakan guyonan yang empat hari lalu mengenai kapan
saya dipanggil mas.
Kami juga heran kok bisa ya... Saya telpon minta dipanggil walau dalam guyonan,
akhirnya saya beneran juga ke lapaknya mas Hendri.
Saya di telpon sekitar jam sebelas siang, saya baru bisa berangkat sekitar jam
setengah satu siang, karena mesti menyelesaikan pesanan aplikasi milik pak Joko
dari Natar terlebih dahulu.
Setelah saya chek, loadcell timbangan mati dua unit akibat tegangan tinggi yang
diakibatkan petir.
Karena jenis loadcell yang saya bawa tidak sesuai dengan loadcell punya mas
Hendrik, akhirnya saya utus supir saya pulang untuk mengambil jenis loadcell
yang sesuai.
Setelah menunggu empat jam, saya mulai memasang dua loadcell dengan dibantu
supir-supir yang biasa jual singkong di lapak mas Hendri. Mereka bersedia
membantu demi lebih cepat bisa menimbang.
Pekerjaan lancar dengan cepat bisa selesai, seketika para supir penjual
singkong bersorak gembira dan mulai stater mobil dan berbaris dalam antrian.
Ada kebahagiaan terselip dalam hati saya begitu melihat mereka bisa bekerja
lagi. Inilah kebahagiaan yang mungkin tidak saya dapatkan bila saya bekerja di
bidang lain.
Saya selalu bahagia dapat membantu teman-teman saya, bukan sekedar karena uang,
tapi ada rasa lain yang tidak dapat saya uraikan dengan kata-kata.
Saya berharap saya selalu sehat, sehingga saya tetap dapat membantu semua
teman-teman saya di manapun berada. Terkadang saya terbang ke Kalimantan, Sulawesi,
bali atau ujung barat hingga ujung timur pulau jawa. Tak luput Sumatera, karena
memang saya tinggal di Sumatera tepatnya di Tulang Bawang Lampung.
Kesini dik… mau duit lima puluh ribu gak?
Kata saya memanggil Mayi. Hari ini saya dapat pesanan pembuatan dua aplikasi
timbangan dari pak Joko Taputus dari Natar.
Kebetulan hari ini tidak ada jadwal berangkat service timbangan.
Mau donk pak, jawab Mayi.
Mayi harus bantu bapak membuat aplikasi timbangan, duduk di sini dan kerjakan.
Sebenarnya Mayi hanya mengetik apa yang saya arahkan, maklum dia belum begitu
fasih membuat aplikasi timbangan menggunakan bahasa pemrograman.
Saya sebenarnya ingin melatih dia, agar nantinya dia dapat meneruskan apa yang
sudah saya rintis.
Hanya di orang tua sendiri belajar dapat ilmu dapat gaji. Saya yakin dia akan
lebih baik dari saya, mengingat fasilitas sekarang lebih lengkap. Internet
dengan mbah gugelnya, Wifi sekencang pesawat tempur, Listrik dan perangkat
komputer yang super canggih yang sangat berbeda sewaktu saya belajar dulu.
Kita ingat dulu kita belajar harus baca buku, tidak ada tempat bertanya,
kalaupun ada tempat bertanya orangnya songong banget dan masih banyak
keterbatasan lainnya.
Setengah hari akhirnya selesai juga pesanan aplikasi pak Joko Taputus.
Istirahat siang sebentar sambil scroll-scroll tiktok dengan tebaran fyp cantik
dan bening-bening.
Masih ada waktu, saya gunakan ganggu-ganggu istri, tentunya istri saya sendiri
dong kan di rumah he he he kalau di luar gak tau deh. Pokoknya saya buat dia
teriak-teriak biar suasana ramai, kan kalau tetangga denger wah bahagia banget
pak Nawa dan Bu Warti. Aciiiieeee
Cerita saya ganggu istri saya itu bohong kok, saya gak pernah ganggu-ganggu
begitu. Maksudnya gak pernah telat.
Warti istri saya masih sibuk ini dan itu, saya paksa ke belakang rumah. Mau
apa, ayoo?. Sambil olah raga cari keringat, Saya dan Warti membersihkan aneka
tanaman sayuran organik. Serius ini organik dan benar-benar organik. Praktis
untuk urusan sayur mayur, cabai dan temen-temennya seperti kencur dan kunyit
warti gak pernah beli. Kalau gak percaya datang aja kepasar pasti lengkap.
Ngomong-ngomong mengenai cabai saya pernah tertipu. Waktu itu saya kepasar, saya
beli cabai satu kilo. Sekilo semuanya sudah matang dan merah, tapi satupun gak
ada yang manis padahal sudah merah banget. Ada yang tau gak, Saya mesti lapor
kemana?.
Ada yang lucu lagi, ini kejadiannya dah di pengujung hari. Maksud saya dah
sore. Pas Mayi datang dari bersepeda ada mobil paket yang mirip dengan mobil
saya, datang membawa paket loadcell dan indikator.
Mayi berteriak “Saya ikut-saya ikut”. Sampai-sampai bapak paket tertegun dan
bingung. Pasti bapak paket bertanya-tanya apa maksudnya “saya ikut-saya ikut”.
Saya jelaskan, Mayi mengira ini mobilnya dikira ama dia Bapak dan Ibunya ada
panggilan service dan mau berangkat kerja.
Pokoknya sulit di ceritakan pokoknya lucu melihat Mayi menyembunikan malunya.
He he he kecele deh.
Tamat… segitu aja ceritanya hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar