Akhir-akhir ini ada istilah samidim (Satu mili di atas miskin). Kondisi Samidim adalah gambaran kondisi ekonomi yang paling menyakitkan.
Jika miskin di negeri ini dapat bantuan subsidi berupa blt, raskin dan seabrek bantuan lainnya. Jika kaya ya syukur, hidup sudah enjoy walau tidak dapat bantuan dari manapun.
Nah bagaimana dengan si samidim?
Samidim tidak masuk daftar penerima bantuan apapun, dia juga belum tergolong menengah. Hidupnya pas-pasan. Iya kadang sudah mampu punya kendaraan roda empat tapi sngat buruk. Itupun biasanya punya karena terpaksa karena misal tiap bulam mesti rutin berobat ke kota.
Di mata para pemegang kebijakan ia tampak seperti orang berada karena mampu memiliki kendaraan butut. Mereka tidak mengetahui betapa beratnya hidup si samidim. Kadang menetes air liurnya melihat si dia yang di sebut miskin menerima berbagai bantuan.
Cemburu, tentu ada rasa cemburu. Bagaimana tidak ketika ada iuran, pajak, sumbangan si samidim selalu masuk daftar. Apalagi kalau iuran itu ada level greatnya. Kadang si samidim masuk great dua parahnya kalau di masukkan great satu.
Hidup terasa tak adil, mati-matian berjuang mengais rezeki, pengeluaran besar untuk anak sekolah, tagiahan listrik, pajak, kesehatan dan segudang lainnya yang memaksanya mengelus dada menyabarkan diri sendiri karena dunia tak mau tau keadaan si samidim.
Kalaupun ingin mendaftar menjadi golongan miskin agar mendapat raskin tentunya tidak semudah itu. Nyinyiran tetangga lebih pedas dari sekilo cabai rawit.
Samidim oh samidim nasibmu berat tapi dipandang berada, Kadang tawa riang penerima bantuan menjadi suara bising yang harus dihindari kalau perlu tutup telinga dengan batu kerikil atau pura-pura bahagia dengan putar kencang-kencang lagu remix sambil karaokean. Sekalian deh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar