Pagi itu, Pak Nawa bangun lebih awal dari biasanya, tepatnya sekitar pukul setengah tiga. Seperti sudah terbiasa dengan rutinitasnya, hal pertama yang dilakukannya adalah mengirim pesan ke orang dinas. "Pak, yang punya lapak minta timbangannya kalau bisa di tera hari ini," tulisnya singkat.
Sehari sebelumnya, Pak Nawa sudah menghubungi Syam dan memintanya datang pagi-pagi sekali. Benar saja, Syam yang patuh dan setia tiba tepat pada pukul setengah tujuh. Sifat patuh Syam selalu membuat Pak Nawa tersenyum dalam hati. Tidak perlu banyak basa-basi, mereka langsung berangkat ke kantor metrology. Pukul sembilan pagi, mereka sudah sampai dan mulai menunggu berkas surat tugas selesai. Sambil menunggu, Pak Nawa mengobrol dengan Pak Ardi, seorang pegawai yang akan ditugaskan untuk tera hari itu.
Obrolan mereka mengalir ringan, dari masalah teknik pelaksanaan tera hingga kehidupan pribadi. Mereka sudah cukup akrab, walaupun Pak Nawa hanya sebagai pihak ketiga. Pak Ardi bercerita tentang istrinya yang masih harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Pak Nawa mendengarkan dengan penuh empati, mengingat betapa beratnya merawat orang sakit, apalagi yang harus menjalani perawatan rutin seperti itu.
Saat selesai, Pak Nawa segera menghubungi Pak Puncak, pemilik lapak yang akan ditera timbangannya. "Hallo, Pak Puncak yang ganteng, yang baik hati," ucapnya dengan nada ceria. "Hari ini jadi pelaksanaan tera." Pak Nawa memang suka menciptakan keakraban dengan pelanggannya, seperti ketika ia menghubungi Mbak Eva, pemilik lapak lainnya, "Hallo, Mbak Eva yang cantik, yang baik hati, hari ini kita jadi tera timbangan."
Pak Nawa selalu berusaha membuat pelanggannya merasa nyaman. Dengan candaannya yang khas, ia menambahkan, "Tolong siapkan menu yang enak dan amplopnya tebal buat sajen-nya ya… He he he." Candaan itu membuat suasana lebih hangat dan akrab.
Setelah urusan tera selesai, Pak Nawa kembali ke rumah. Begitu sampai, ia langsung menyerahkan amplop berisi uang kepada Warti, istrinya. Warti tersenyum lebar, wajahnya tampak berbinar-binar menerima amplop itu. Senyum itu bagi Pak Nawa seperti suntikan darah segar, menghapus sedikit lelah dari harinya yang panjang.
Saat makan siang selesai, Warti segera mencuci piring. Pak Nawa duduk santai di kursi makan, sambil mengamati Warti yang membelakangi dirinya saat mencuci piring. Sebuah ide jahil muncul di kepalanya. Ia berjalan mendekati Warti dan dengan tiba-tiba menempelkan pantatnya ke pantat istrinya. Pak Nawa mengeluarkan kentut keras, lalu berkata dengan wajah pura-pura kaget, "Ah, Ibu ini kentut kok keras banget!"
Warti, yang sudah terbiasa dengan kelakuan jahil suaminya, hanya bisa menggeleng. "Kamu percaya, Syam, kalau ibu yang kentut?" katanya kepada Syam yang kebetulan ada di dekat mereka. Syam hanya tersenyum, memilih untuk tidak terlibat dalam keributan kecil mereka.
Setelah puas dengan kejahilannya, Pak Nawa kembali duduk di kursi makan, terlarut dalam lamunan. Ia teringat kejadian lucu di rumah sakit beberapa waktu lalu. Saat itu, mereka sedang menemani Purnamasy yang baru selesai operasi usus buntu. Syam, Mayik, dan Warti juga ada di sana, dan untuk menghabiskan waktu, mereka bermain permainan di HP. Mayik kalah, dan mereka semua menertawainya. Namun, tak lama kemudian Mayik menangis dan ngambek. Ia berlari dan bersembunyi di bawah tempat tidur rumah sakit tempat Purnamasy berbaring. Mereka pun berusaha membujuknya keluar sambil tertawa.
Lamunan Pak Nawa kemudian berpindah ke ingatan yang lebih serius: perjuangan mereka merawat Purnamasy yang menderita depresi dan anxiety selama beberapa tahun terakhir. Purnamasy sering tidak mau bangun dari tidur, meminta terus tidur tanpa makan. Kadang, ia begitu mudah tersinggung, maunya hanya mengurung diri di kamar, dan jarang mau mandi. Pernah ada saat-saat di mana Purnamasy bahkan tidak mau bertemu dengan orang lain. Tubuhnya sering lemas, berujung pada pingsan, dan beberapa kali masuk IGD.
Satu ingatan paling menyakitkan muncul: suatu ketika Purnamasy mencoba bunuh diri dengan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah. Pak Nawa mengingat betapa sulitnya momen itu, saat ia dan Warti harus berusaha sekuat tenaga agar Purnamasy tidak semakin terpuruk dalam keadaannya. Sesak dada Pak Nawa setiap kali kenangan itu muncul. Namun, setelah operasi usus buntu baru-baru ini, Purnamasy merasa lebih baik. Katanya, gejala anxietynya hanya tersisa sekitar lima persen.
Pak Nawa merasa harapan mulai tumbuh kembali. Mungkin, selama ini penyebab anxiety Purnamasy ada hubungannya dengan radang usus buntunya. Kalau benar, ini adalah kabar baik setelah bertahun-tahun mereka berjuang mencari tahu penyebab penyakitnya. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Purnamasy, karena walaupun ia menderita berbagai penyakit, ia masih bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Purnamasy merasa lega dan bangga karena perjuangannya tidak sia-sia. Meski seringkali terpuruk dalam rasa sakit dan ketidakpastian, ia tetap bertahan dan mampu mencapai titik pencapaiannya.
Tiba-tiba, lamunannya terhenti oleh suara klakson motor Diky dan Rudi yang datang. Diky bertanya, "Pak, di mana saya ambil pupuknya? Berapa jumlahnya?" Beberapa kali mobil pickup hitam mereka bolak-balik membawa pupuk, hingga sebuah kecelakaan kecil terjadi. Roda angkong yang digunakan untuk memindahkan pupuk pecah, dan pekerjaan pun sedikit terhambat.
Hari sudah menjelang sore, dan para pekerja Pak Nawa sudah pulang. Warti, yang sepanjang hari sibuk dari mencuci piring hingga melayani pembeli di warung, kini menyapu halaman dan mencabut rumput di taman bunga depan rumah. Pak Nawa selalu kagum dengan istrinya. Warti memang tidak pernah bisa diam, selalu ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Pak Nawa tersenyum kecil, memandang Warti yang sibuk, dan merasa beruntung memiliki keluarga yang begitu kuat meski banyak tantangan.
Oke sampai sini dulu cerita saya hari ini. Nantikan kisah keluarga saya besok lagi ya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar