Saat jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari, aku baru saja pulang dari ronda. Malam terasa begitu sunyi, udara sedikit dingin. Aku segera mencuci kaki dan merapikan diri, lalu rebahan di ranjang. Mata ini langsung terpejam begitu saja, seakan tubuhku tahu betapa lelahnya aku malam ini. Meskipun hanya beberapa jam saja bisa tidur, rasanya cukup untuk sedikit mengembalikan tenaga.
Namun, rasa tenang itu seketika buyar saat aku terbangun mendadak. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Aku langsung teringat, ada satu hal penting yang harus aku selesaikan hari ini: mengurus surat rujukan rumah sakit di puskesmas. Rasa panik menyusup, menyadarkan aku bahwa waktu semakin sempit.
Dengan segera aku bangkit dari tempat tidur, tetapi sendi bahu kiriku terasa nyeri. Memang, rasa sakit ini sudah menjadi ‘teman’ sejak dua bulan lalu, ketika aku terjatuh bermain sepak bola dalam acara perayaan Hari Kemerdekaan. Tanggal 17 Agustus yang lalu terasa seperti kemarin. Siapa sangka, dari euforia yang seharusnya menggembirakan, aku harus menerima cedera ini. Tidak hanya bahu yang nyeri, jempol kaki kiriku juga masih mengingatkan betapa kerasnya permainan itu. Terinjak oleh pemain lawan, kuku jempolku kini masih terlihat ada bercak hitam—darah mati yang belum sembuh sepenuhnya. Rasanya seperti kenangan buruk yang tidak mau hilang begitu saja.
Setelah berhasil mengurus surat rujukan di puskesmas, aku melanjutkan hariku bersama Syam, supirku yang setia. Kami memutuskan untuk membawa Fortuner putihku ke tempat pencucian mobil. Sudah lama si “ganteng” ini tidak dimandikan. Walaupun usianya sudah mencapai angka yang lumayan, mobil ini masih gagah dan menemaniku berkeliling dalam berbagai urusan. Biarlah sesekali diberi perhatian khusus, pikirku.
Dari pencucian mobil, kami berlanjut ke pasar. Di sana, aku membeli beberapa obat rumput dan barang-barang lain yang diminta oleh Warti, istriku, untuk stok warung kecilnya. Beras, terutama, menjadi permintaan utamanya. Warung kecil itu mungkin terlihat sederhana, namun sangat berarti bagi kami. Setiap hari, Warti dengan telaten melayani para pelanggan yang datang, menambah pemasukan rumah tangga.
Saat aku meninggalkan rumah tadi pagi, Purnamasy, anak sulungku, sedang dirawat oleh petugas perawat. Luka bekas operasinya harus selalu diperiksa, dan proses penyembuhannya memang memerlukan perawatan intensif. Perasaan khawatir tak pernah benar-benar lepas dariku, tapi aku selalu berusaha terlihat tegar. Sementara itu, Mayik, anak bungsuku, sudah bergegas pamit untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa, dia mencium tanganku sebelum pergi, sebuah kebiasaan yang tidak pernah dilewatkannya. Ada rasa bangga setiap kali melihat Mayik menjalankan rutinitasnya dengan penuh tanggung jawab, meskipun aku tahu beban di pundaknya terkadang berat.
Sesampainya di rumah setelah berkeliling, sebuah panggilan masuk ke ponselku. "Halo, Pak Nawa," suara familiar dari ujung telepon menyapaku. Ko Afuk, seorang rekan bisnis yang sudah lama aku kenal, sebenarnya tidak memiliki lapak singkong, tapi dia punya DO (Delivery Order) di pabrik. Orang-orang menggunakan namanya untuk mengirim singkong ke pabrik, dan sebagai gantinya, dia mendapatkan fee dari transaksi tersebut.
Ko Afuk datang membawa CPU komputer dan satu unit indikator timbangan, berharap aku bisa menginstall aplikasi timbangan, meskipun kali ini masih versi offline. Proyek timbangan truk online-ku belum selesai, dan rasanya seperti perlahan, semua butuh waktu lebih lama dari yang aku harapkan. Namun, seperti biasa, aku mencoba untuk tetap profesional dan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat.
Setelah aplikasi terpasang, aku mencoba indikator milikku terlebih dahulu untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Hasilnya, string angka dari indikator tersebut tampil sempurna di aplikasi NT Nawa Timbangan. Lega rasanya melihat semuanya berjalan dengan baik, tapi ketika aku mencoba indikator yang dibawa oleh Ko Afuk, masalah mulai muncul. Indikator itu tidak bisa mengirimkan string ke CPU komputer. Ada yang tidak beres dengan bagian RS232C-nya, dan sepertinya ini bukan kali pertama indikator tersebut bermasalah. Beberapa hari yang lalu, Ko Afuk juga pernah membawa CPU dan indikator yang mengalami masalah serupa. Aku hanya bisa mengelus dada, mencoba tetap sabar meskipun di dalam hati sedikit kecewa.
Sambil bercanda, aku berkata, “Koh, kalau rusak-rusak begini, jangan bawa ke saya terus. Beli di saya saja, kan lebih pasti. Barang sesuai baru dibayar. Daripada bolak-balik, habis waktu, habis bensin juga kan?”
Ko Afuk tertawa, mungkin menyadari benarnya ucapanku. "Di sini masih ada dua indikator, Pak. Tapi merknya malah kalah dari yang itu," katanya dengan nada sedikit ragu. Aku hanya tersenyum. Kadang memang lebih baik membuat suasana lebih ringan dengan candaan agar hubungan dengan pelanggan tetap hangat. Bisnis adalah tentang menjaga kepercayaan dan hubungan baik.
Begitulah keseharianku, meskipun banyak hal yang menguras tenaga dan pikiran, aku tetap berusaha untuk melihat sisi positif dari semuanya. Setiap tantangan yang datang aku anggap sebagai bagian dari perjalanan panjang yang harus dijalani. Dan meski di luar sana penghasilan dari usaha timbangan truk menurun, aku bersyukur memiliki dua lapak singkong yang masih berjalan dengan baik. Kedua lapak ini telah menjadi sandaran ekonomi keluarga kami. Setiap bulannya, penghasilan dari lapak bisa mencapai rata-rata lima belas juta rupiah, cukup untuk menutupi kebutuhan harian, biaya kuliah Purnamasy, sekolah Mayik, dan tentu saja biaya perawatan kesehatan yang tidak sedikit.
Lapak-lapak itu juga telah memberi pekerjaan kepada banyak orang. Ada kuli bongkar muat, satpam, operator, hingga kerani. Aku merasa bangga bisa membantu mereka, meski mungkin hanya dalam kapasitas yang terbatas. Setiap orang yang terlibat di lapakku, mereka bekerja keras, dan aku berharap, melalui usaha ini, mereka bisa menjalani hidup dengan lebih baik.
Keluarga kami mungkin memiliki berbagai masalah, terutama terkait kesehatan Purnamasy, tetapi dalam setiap tantangan, selalu ada canda tawa yang membuat kami lupa akan masalah-masalah itu. Rumah kami dipenuhi kehangatan, rasa syukur, dan kebersamaan. Bahkan, meski terkadang beban terasa berat, kami selalu berusaha untuk saling mendukung dan menguatkan. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi dengan doa, kerja keras, dan sedikit humor, kami bisa terus melangkah ke depan.
“Oke, sampai sini dulu cerita saya hari ini. Nantikan kisah keluarga saya besok lagi ya…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar