Di zaman dahulu kala, di sebuah desa nelayan yang terletak di pesisir Selat Sunda, hiduplah sepasang muda-mudi yang bernama Cahyo dan Nilam. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang serasi dan dikagumi oleh seluruh penduduk desa. Namun, di balik keindahan cinta mereka, tersimpan rahasia gelap yang perlahan menggerogoti hati nurani mereka.
Suatu ketika, tergoda oleh nafsu sesaat, Cahyo dan
Nilam melakukan perbuatan yang melanggar norma dan adat istiadat desa.
Perbuatan mereka itu menimbulkan kemarahan para leluhur dan dewa laut, Dewa
Varuna.
Sebagai hukuman atas dosa mereka, Dewa Varuna
menciptakan sebuah pulau kecil di tengah Selat Sunda. Pulau itu kemudian
dikenal sebagai Pulau Kandang, yang konon menjadi tempat penebusan dosa bagi
Cahyo dan Nilam. Selain itu, Dewa Varuna juga melaknat perairan di sekitar
Pulau Kandang. Setiap kapal yang melintas di dekat pulau tersebut akan
mengalami gangguan, mesin kapal akan terasa berat dan sulit dikendalikan,
seolah-olah ada kekuatan gaib yang menghalangi.
Kabar tentang kutukan Dewa Varuna pun menyebar
luas di kalangan para pelaut. Banyak kapal yang mengalami kecelakaan di sekitar
Pulau Kandang, sehingga membuat para nelayan ketakutan untuk berlayar melewati
pulau tersebut.
Seorang nahkoda tua yang bijaksana kemudian
mengungkapkan rahasianya. Ia mengatakan bahwa untuk meredakan kemarahan Dewa
Varuna dan membuat pelayaran kembali aman, para nahkoda harus selalu berdoa dan
memohon ampun atas dosa yang telah dilakukan oleh Cahyo dan Nilam. Dengan tulus
memohon ampunan, diharapkan Dewa Varuna akan meringankan kutukannya.
Sejak saat itu, menjadi tradisi bagi para nahkoda yang melintasi Selat Sunda untuk selalu memanjatkan doa kepada Dewa Varuna. Mereka berharap agar dosa Cahyo dan Nilam dapat diampuni dan kutukan yang menimpa Pulau Kandang dapat segera berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar