Nawa adalah seorang laki-laki paruh baya berumur lima puluh dua tahun, dia tampak emosi ketika seorang teman yang bernama Ardi mengeluh tentang kehidupannya, mengapa hidupku selalu gagal. Apa saja yang aku kerjakan tidak pernah berhasil. Sering teman-teman bertanya ini dan itu seperti kenapa tanaman cabaimu kerdil dan bla… bla… bla… Pertanyaan-pertanyaan itu bagiku, bukan pertanyaan, tapi lebih seperti penghinaan pada diriku.
Ardi… menurutku kamu terlalu cengeng dalam menghadapi masalah, bagaimana kalau kamu mengalami beban hidup seperti diriku?. Anakku sampai sakit-sakitan, sering pingsan dan sudah beberapa kali ingin mengakiri hidupnya dengan cara kebut-kebutan di jalan raya. Tau kamu apa sebabnya dia seperti itu?
Nawa melanjutkan ceritanya. Dokter bilang dia mengalami depresi dan anxiety. Sudah aku bawa kemana-mana, mungkin semua dokter di Lampung sudah pernah menangani dia. Tidak sampai di situ aku bawa ke rumah sakit di purwakarta yang biaya dua minggunya, bisa kamu bayangkan lebih dari tiga puluh juta.
Aku bawa ke banyak orang pintar, tabib, psikolog, psikiater dan terakhir ke hipnoterapi.
Hipnoterapisnya bilang ini akibat tekanan sewaktu bayi dan masa balitanya.
Tau kamu anakku jadi korban seperti itu? Karena apa?
Baiklah aku ceritakan dari awal biar kamu lebih mensyukuri kehidupanmu, yang masih lebih baik dari banyak orang.
Dengarkan kisah hidupku baik-baik!!.
Sewaktu aku dalam kandungan ibuku sakit biri-biri.
Jangan kamu bertanya kok kamu tau padahalkan kamu masih dalam kandungan!. Sebelum kamu bertanya baiklah aku hilangkan keraguanmu.
Masa kecilku sekitar umur tujuh tahun aku dibuang ke bali dan hidup bersama nenek dan kakakku sukawan yang sangat membenciku tak tau apa sebabnya.
Nenekku banyak bercerita mengenai ibu, bapak, kakek, dan kisah beliau sendiri. Belakangan saya dapat tambahan cerita dari kakak dan kakek sambil kerja di ladang. Dengan demikian aku mendapat cerita yang utuh mengenai aku dan keluargaku.
Semasa aku dalam kandungan ibuku sakit biri-biri. Ibuku tidak begitu di urus oleh bapakku dan juga keadaan ekonomi keluarga kami tidak punya biaya yang cukup untuk berobat.
Bapakku punya kebiasaan buruk suka berjudi dan belakangan aku tau bapakku juga suka selingkuh.
Ingat ya sebelum aku di lahirkan kami semua masih tinggal di bali. Melihat keadaan ekonomi semakin hancur dan membayangkan masa depan tiga cucunya yang suram, sampai akhirnya aku berumur lima bulan kakekku memutuskan ke lampung menyusul paman dari pihak ibuku.
Mungkin kamu bertanya, mengapa ke lampung?
Keadaan ekonomi kami semakin parah. Sawah dan ladang hampir habis untuk judi oleh bapakku, masih ada sedikit itupun sudah digadaikan pada saudara dari pihak kakek.
Nenekku tidak mau ikut kelampung. Kok begitu?
Ya. kakek dan nenekku sebenarnya tidak harmonis. Dibilang bercerai tidak, dibilang tidak bercerai tapi tidak tinggal serumah.
Sebenarnya kakekku tidak mencintai nenekku, tapi karena nenekku masih ada sedikit hubungan keluarga dengan kakekku dan nenekku adalah anak satu-satunya, agar harta warisan tidak jatuh ke orang lain maka kakekku di minta menikahi nenekku.
Lantaran kakekku tidak mencitai nenekku, kakekku masa mudanya hanya menghambur-hamburkan harta saja. Artinya nenekku dulu anak orang kaya.
Kakekku menikah lagi dengan gadis cinta pertamanya yang bernma klepon dan punya anak satu namanya Drim.
Karena kakek nenekku tidak saling mencintai ya praktis bapakku adalah anak tunggal juga.
Bapakku hanya di asuh oleh nenekku, bapakku merupakan anak yang tidak dapat kasih sayang dari kakekku dari masa kecil sampai menikah.
Sekitar satu bulan kami numpang tinggal di adik ibuku di yogaloka. Sekarang di perantauan kakekku tekun sekali bekerja baik sebagai buruh tani maupun numpang bagi hasil sawah saudara.
Sisa bekal dari bali dan ditambah keuntungan bagi hasil, kakekku mampu beli tanah hutan belantara tiga hektar. Waktu itu harganya masih sangat murah hanya lima ribu rupiah seluas tiga hektar. Nah di ladang inilah kakekku membangun gubuk tempat tinggal.
Bapakku sama sekali tidak bisa kerja tani, maklum kurang asuhan kakekku. Pernah suatu hari bapakku ikut kerja keladang. Kakekku bukannya senang malah bapakku di usir pulang karena kerjaanya jelek sekali di mata kakekku. Bapakku jadi serba salah. Diam dirumah kakekku marah, ikut ke ladang malah diusir pulang.
Hasil ladang sangat melimpah, lumbung padi sampai patah bagian kayu tulangannya karena tidak kuat menahan beban padi di atasnya. Walau begitu kakekku menanak nasi, tetap mencampur beras dengan singkong, agar padi bisa lebih banyak yang dapat di jual.
Karena tidak punya kesibukan bapakku mencoba menjual hasil ladang ke merak. Bapakku waktu itu nyebrang selat sunda dengan menyewa motor boat, karena belum ada pelabuhan penyebrangan merak bakauheni.
Setelah panen padi pertama atau sekitar lima bulan kami tinggal di gubuk, usiaku sekitar sebelas bulan ibuku meninggal dunia. Beliau di makamkan di yogaloka. Sayang sekali ibuku tak ada fotonya, hingga sampai sekarang aku tak ingat sama sekali wajah ibuku.
Lama-kelamaan bapakku jadi piawai berjualan. Menjual pisang hasil ladang sendiri dan membantu menjualkan pisang tetangga.
Cukup berkembang usaha bapakku di bisnis pisang. Seminggu bisa tiga kali antar pisang ke merak, dan sering menginap untuk menunggu uang cairan dari pengepul besar.
Suatu hari bapakku berkenalan dengan Siti Komariah seorang janda kembang berparas manis. Wanita ini adalah ponakan dari ibu warung kopi tempat bapakku sering makan dan minum kopi sambil menunggu uang cairan pisang.
Bapakku menikahinya di usiaku empat tahun, kakak laki-lakiku berumur sepuluh tahun dan kakak pertamaku perempuan berumur tiga belas tahun. Sempat setahun kami bersama ibu tiri tinggal di gubuk ladang salang.
Di usiaku lima tahun, yaitu sekitar tahun sembilan belas delapan puluh kami pindah ke sidoluhur untuk persiapan aku masuk sekolah dasar.
Ekonami kami sudah sangat membaik. Bapak jadi saudagar pisang dan kakek tekun kerja di ladang. Tahun sembilan belas delapan satu kami sudah mampu membanggun rumah yang sangat bagus kala itu. Lebih membanggakan lagi, rumah kami adalah rumah pertama yang tembok semen.
Di tahun ini juga saya masuk sekolah dasar di desa harapan, dan yang paling menyenangkan, saya punya adik laki-laki.
Dekat-dekat kenaikan kelas kakakku di sekolah di keroyok temannya. Kakak dan teman berkelahinya sama-sama di hukum di WC. Merasa tidak terima kakakku dikeroyok, aku lempar si anak yang mengeroyok kakakku. Sayang sekali batu yang aku pakai melempar malah mengenai kaca, plarrrr kaca itu pecah berkeping-keping.
Tiba-tiba telinga kiriku sudah diangkat ke atas oleh pak keong guru kelasku. Saya ditarik dengan keras mau dimasukan ke WC juga, Saya bertahan, kaki saya tuaskan ke undak WC, dan serta merta tangan pak keong saya tarik dan saya gigit sampai berdarah.
Sejak saya menggigit tangan pak keong, lama sekali saya gak berani beli jajan di kantin sekolah, karena kantin itu milik istrinya pak keong. Perasaan saya sangat tersiksa setiap kali ada teman mengajak ke kantin. Akhirnya saya di paksa sama teman baik saya, katanya gak apa-apa ke kantin aja.
Naasnya baru seminggu saya berani ke kantin, entah bagaimana saya menyenggol mangkok yang berisi minyak goreng dan minyak itu tumpah. Pas kebetulan pak keong di samping saya. Dia tidak marah, tapi saya melihat raut mukanya dan matanya yang melotot saya jadi takut, dan sayapun lari meninggalkan kantin.
Ada satu kenangan lagi saya di marah pak keong.
Waktu itu teman-teman bermain di samping motor pak keong, Saya sebenarnya sudah ada firasat gak enak. Saya mau menghindar pura-pura mau ke kelas, tapi teman-teman bersikeras menarik saya untuk ikut bermain. Ok saya ikut saja.
Permaianan semakin asik, tidak sengaja seorang teman menekan pedal gigi motor sampai berbunyi cetek. Roda tidak bisa bergerak kalau gigi tidak netral. Teman-teman meneriki nama saya nawa nawa nawa seolah-olah saya yang salah. Saya ketakutan karena pak keong tergopoh-gopoh mendekati saya. Semenjak itu saya tidak berani ke kantin dan ikut belajar di kelas kalau gurunya pak keong.
Sebenarnya saya anak yang lumayan cerdas, nantilah saya ceritakan prestasi-prestasi saya, tapi karena saya ada banyak masalah dengan pak keong saya TIDAK NAIK kelas. Saya yakin satu-satunya penyebab saya tidak naik kelas ya karena bermasalah dengan pak keong, Karena waktu saya menggigit tangannya, beliau mengancam saya. Katanya "Kamu tidak saya naikkan kelas"
Tahun sembilan belas delapan satu aku dan kakakku dikirim ke bali. Tidak tau alasan pastinya kenapa kami di kirim kebali. Bisa saja untuk menemani nenek, atau karena aku tidak naik kelas. Bagiku inilah titik awal penderitaan panjangku.
Sepulangnya bapak dan ibu tiriku ke lampung, hari-hari deritaku di mulai. Kakakku membeli tiga puluh ekor anak bebek kalau di bali namanya meri. Aku disuruh mencarikan cacing, membuatkan makanan meri, membawanya ke sawah untuk diangon.
Suatu hari sewaktu mencarikan cacing, meri-meri berebut cacing, tidak sengaja satu meri tertimbun tanah waktu aku menyingkirkan tanah cangkulan agar cacingnya terlihat oleh meri.
Begitu kakakku tau merinya kurang satu ekor, dia marah luar biasa. Dia tidak mau mendengar penjelasanku. Aku dipukul sampai biru di bawah mata kananku. Aku hanya bisa menangis, dan kalau laripun dia pasti mampu menangkapku. Waktu itu umurku baru tujuh tahun sedangkan dia enam tahun lebih tua dariku.
Setelah meri menjadi bebek remaja dan siap untuk bertelur, ia jual ke pasar tegalalang. Aku tidak tau uangnya untuk apa, yang jelas nenek bilang tidak pernah dikasih. Aku juga tidak pernah dikasih.
Sering terjadi dia marah denganku tanpa alasan yang jelas. Setiap dia melihatku, bawaanya selalu emosi, untungnya dia jarang dirumah. Pagi dia sekolah dan aku juga sekolah. Sepulang sekolah dia tempat temannya untuk melanjutkan ukiran kayunya.
Biasanya hari jumat pulang sekolah agak pagi, tapi lain jumat ini. Sekolah mengadakan cerdas cermat, aku dan dua temanku berasil juara satu. Dari lomba itu aku dapat hadiah buku, penggaris dan pensil. Hadih ini aku sembunyikan di batuan tembok pagar. Aku mengintip ke arah rumah dari balik pagar tembok. Aku lihat kakakku ada di rumah. Seperti biasa aku tidak berani pulang kalau dia di rumah, lebih baik menahan lapar daripada menahan sakitnya tendangan dan kata-katanya.
Begitu aku mengendap dan mau pergi untuk menghindari dia, kakak melihat aku, dia berteriak "Jangan lari anak Namyang".
Dia sering menyebutku anak si Namyang, bukan anak bapakku. Ini berarti dia menuduh ibuku selingkuh dan lahirlah aku.
Sakitnya kepalaku kena pukul dan tendangan, masih bisa aku tahan dan dapat sembuh. Tapi aku dibilang anak haram, sakitnya tak tertahan dan masih terasa sampai sekarang.
Lebih menyakitkan lagi waktu dia kuliah di Lampung, mungkin dia bilang kalau aku anaknya Namyang ke Yondri calon istrinya yang masih saudara mindon dengan saya.
Dalam candaannya Yondri menyebutku anak Namyang. Seperti tersambar petir rasanya aku mendengar itu, tapi aku menahan diri mengingat dia calon istri kakakku.
Aku diam dengan tubuh gemetar di balik tembok pagar, dia datang dan langsung menampar. Aku terjatuh dan punggungku sakit sekali di injaknya.
Di sini aku menangis memanggil ibu dan menyalahkan ibu. Mengapa aku dilahirkan, tapi ibu pergi meninggalkan aku selamanya. Jawab ibu!!! apakah aku benar anak Namyang?. Pertanyaan ini tidak akan pernah terjawab mungkin sampai aku mati.
Kekejaman kakakku tidak sampai di situ, mungkin dia dapat surat dari bapak di lampung untuk menanyakan apakah aku sudah bisa ngukir seperti dia?. Ini masih mungkin, karena tiba-tiba sekali ini dia menyuruhku belajar ngukir.
Kayu kecil bahan ukiran dan pahat lengkap miliknya sudah disiapkan di balai rumah. Biasanya pahat-pahat itu di tempat temannya.
Usia saya waktu di tahun sembilan belas delapan dua, masih delapan tahun dan kelas dua SD. Saya belum pernah dapat kesempatan belajar ngukir karena tidak punya alat ukir sendiri. Lagi pula saya sibuk urus bebek dan cari belut, belalang, genjer di sawah. Belum lama belajar ukir pahat penatar milik kakak, tidak sengaja saya patahkan. Kakak saya marah besar dengan saya, saya jadi bulan-bulanan kakak saya. Saya tidak berani melawan, bahkan tangispun saya tahan. Kalau saya menangis kakak lebih marah lagi.
Pukulan tangan, tendangan dan bahkan saya dipukul menggunakan palu kayu untuk ngukir yang kalau di bali namanya pengotok. Tengkorak kepala deket user-user sebelah kiri saya agak masuk ke dalam dan bunyi krek waktu di pukul. Sampai sekarang di usia saya lima puluh dua tahun masih ada cekungan bekas di pukul kakak.
Nenek menangis melihat saya di siksa, beliau berkata dalam tangisnya "Bunuh saja adikmu, kamu saja yang boleh hidup". Nenek mencoba melerai, dan nenekpun tidak sengaja lengan kirinya kena pukulan kakak. Kejadian seperti itu sering sekali terjadi, mungkin dia benci dengan saya, karena dia menganggap saya bukan anak bapak sojar melainkan anaknya Namyang. Sakit sekali hati saya kalau mengingat itu semua. Terkadang muncul dendam di hati saya. Saya berkata pada diri saya sendiri suatu saat saya akan lebih sukses segalanya dari kamu dan kamu akan mengemis minta tolong dengan saya.
Tiga hari setelah kenaikan kelas, sekarang saya sudah kelas empat. Baru saja saya naik kelas dan saya seperti biasa dapat juara dua. Bapak datang dari lampung untuk menjemput kami. Akhirnya nenek bersedia ikut ke lampung.
Ada kisah haru yang saya selalu ingat, Weda wati gadis kecil yang sangat cantik berkulit bersih dan berambut lurus, menangis sewaktu berkeliling membawa kertas berbentuk kerucut yang digunakan untuk memungut sumbangan sukarela untuk perpisahan saya. Bukan hanya Weda wati, hampir semua teman saya ikut menangis. Mereka sedih akan berpisah dengan saya. Weda wati anak yang cerdas, dia meraih juara tiga dan selalu menjadi wakil ketua kelas, dan saya dari kelas satu sampai kelas tiga ketua kelas dan selalu meraih juara dua. Juara satu selalu diraih oleh Tutde anak kepala sekolah SD negeri dua kenderan.
Saya diterima di kelas emat SD Negeri Sidoluhur, Di sini kembali saya bertemu dengan teman kecil saya yang namanya Retno Susanti yang sewaktu saya masih ngumbul di rumah gubuk ladang salang. Paras dan perawakan mirip sekali dengan Weda Wati, hanya saja Retno lebih sedikit pendiam. Kulitnya putih bersih, berambut lurus dan manis sekali bila tersenyum.
Retno selalu menjadi bintang kelas bergantian dengan Arbain dan Sri Handayani yang menjadi saingannya. Arbain si tubuh mungil yang cerdas dia ketua kelas empat. Saya anak baru belum berkiprah apapun. Pada pembagian raport cawu satu, saya menggeser Retno, Arbain peringkat satu, saya peringkat dua dan di peringkat tiga ada dua siswa yaitu Retno Susanti dan Sri Handayani.
Di sekolah saya bahagia, dan kalau pulang sekolah kembali kecemasan datang kalau-kalau kakak ada di rumah.
Hari minggu saya dan kakak di ajak keladang oleh kakek, tapi tidak lama kemudian kakek ada yang menyusul katanya ada tetangga yang meninggal dunia. Saya dan kakak awalnya damai-damai saja. Kakak mengajak istirahat sambil membuat mainan tepuk menggunakan pelapah pisang.
Mainan tepuk yang saya buat saya bunyikan, "Brisik..." Katanya. Saya didorong, saya mengelinding karena ladang kami sangat miring. Awalnya dia tertawa senang melihat saya menggelinding. Dia melempar saya dengan batu kecil, saya menghindar dan tidak kena. Kakak jadi penasaran dan ingin lagi melempar saya, sekarang dengan batu lebih besar. Saya bersembunyi di balik pohon kelapa.
Kakak mengejar dan menghujani saya dengan batu sedapatnya. Saya berlari dari pohon kelapa yang satu ke pohon kelapa yang lain. Saya terkena lemparanya dua kali. Saya kesakitan, saya memutuskan menghindar ke arah jalan lain untuk pulang. Kakak kehilangan jejak.
Takut kakak masih mengejar, saya bersembunyi di hutan. Saya duduk menangis kecil sesegukan. Kembali saya ingat ibu yang menurut saya kejam sekali, ia hanya mau melahirkan saya, tapi dia tidak mau merawat saya. Saya mulai membenci ibu kandung saya yang sudah meninggal, tapi saya rindu ingin bertemu dan selalu memanggil namanya. Rindu tapi benci, benci tapi rindu. Ini campur aduk rasanya membuat sesak di dada saya.
Dalam tangis-tangis seperti ini saya mencari-cari gambaran wajah ibu yang tidak pernah saya ingat. Saya mencari apakah ada kemiripan dengan kakak perempuan saya yang bernama Sariani yang lebih akrab di panggil Yan Genep. Saya juga mencari gambaran di wajah adiknya ibu yang ada di Yogaloka. Semua tidak pasti, saya bertambah benci dengan ibu kandung saya.
Kakak telah menyebabkan saya begitu membenci dengan ibu, yang mestinya saya begitu rindu dengan belaian kasih sayangnya.
Saya kelas empat SD, kakak kelas satu SMA, sebuah sekolah swata di Sawah Lunto Penengahan. Penampilan kakak nyentrik dengan motor vespa yang kala itu motor favorit.
Bapak terlihat bangga sekali dengan kakak, di mana-mana selalu kakak di bicarakan. Beda sekali terhadap saya, walau mengenai prestasi saya jauh di atas kakak. Saya dari SD sampai perguruan tinggi selalu di terima dalam seleksi sekolah negeri unggulan. Sedangkan kakak hanya SD saja yang negeri.
Kasih sayang bapak terlihat sekali berbeda. Selama sekolah kakak enam kali gonta-ganti motor. Pertama Vespa, Honda 70, L2 Super, Honda 800, Honda Prima yang tidak lama kemudian hilang dan Honda Prima lagi, sedangkan saya sekalipun tidak pernah di belikan. Kalau ada nasib baik saya dapat motor sisa kakak.
Uang kuliah ku sangat minim, tidak berani minta lebih, bahkan hanya untuk beli buku dan perlengkapan kuliah. Bagai mana tidak, yang satu ibu tiri, yang satu bapak yang pilih kasih. Tapi aku tetap bertahan demi mewujudkan cita-citaku, aku akan lebih sukses dari kakak yang di manja. Sebenarnya aku ambil fakultas pendidikan juruasan MIPA prodi biologi adalah pelarian semata. Aku tidak sreg dengan FKIP tapi aku SMAnya jurusan A2 mau kemana lagi? ya sudah lah.
Awalnya cita-citaku dapat kuliah di Fak Kedokteran, tapi kakak melarang dia bilang "Kita tidak mampu biayanya, walau sampai celana dalam kita, kita jual". Satau saya waktu aku lulus SMA ekonomi keluarga sedang baik-baiknya.
Kalau mengenang itu, sakit sekali rasanya. Ibu tidak punya, bapak yang pilih kasih, Lengkaplah sudah. Untung ibu tiri saya tergolong baik, bahkan bisa dibilang saya lebih di sayang daripada kakak saya. Tapi walau begitu tetap saja ada jarak, karena bagaimanapun juga beliau bukan ibu kandung. Saya saudara kandung bertiga, hanya saya yang tidak pernah bertengkar dengan ibu tiri. Saya merasakan sayang yang tulus dari beliau.
Ibu tiriku dengan lembut, membasuh sela-sela jari kakiku yang waktu itu luka borok. Menurutku beliau hanya status sebagai ibu tiri, mengenai kasih sayang sudah seperti ibu kandung. Hanya saja hati ini tidak bisa mengakui beliu sebagai ibu kandung, ya karena saya masih ingat saya sudah umur empat tahun beliau baru nikah dengan bapak.
Yang masih jelas dalam ingatan saya betapa sayangnya beliau dengan saya, pernah kejadian tak sengaja saya minum karbit. Saya tidak tau kaleng minuan kemasan itu isinya karbit. Ibu tiriku menjerit histeris "Anakku jangan mati, ayo muntahkan... itu karbit". Kepalaku di belai dengan mukaku di benamkan di dadanya. Sampai kapanpun kasihnya akan selalu ku ingat.
Setelah aku SMP prestasiku semakin terlihat, selalu dapat peringkat tiga besar. Aku pernah mewakili Lampung dalam kejurnas BKC di jakarta. Di SMA aku di sayang guru Biologi dan Kimia. Aku dipercaya membimbing teman-teman belajar Kimia kalau guru pengasuh Kimia ada rapat atau halangan yang lain.
Di kampus aku sempat tiga tahun mendapat beasiswa supersemar, yang merupakan beasiswa prestasi, dan sempat dua semester menjadi asisten praktikum. Telah banyak prestasiku bapak tau, tapi tetap saja kakak yang disebut-sebut kalau lagi bicara dengan koleganya.
Sering aku berfikir, apakah benar aku bukan anak bapak. Ingin sekali aku bertanya pada bapak, tapi selalu aku urungkan. Takut menyakiti hatinya.
Dalam situasi seperti ini, aku berkata pada ibu kandungku yang entah ada di mana. "Ibu... sebentar lagi aku wisuda, penderitaanku akan berakhir, Jika aku menikah dan punya anak, tolong ibu yang lahir jadi anakku!!!."
Di sela-sela rindu dan berharap ibu kandungku lahir jadi anakku, di sisi lain hatiku ada dendam pada ibu yang tidak pernah menemani perkembanganku, tak pernah memberi kasih sayang dan tak pernah merawatku.
Jauh di bawah sadarku, aku berkata "Awas nanti kalau ibu jadi anakku, akan kusiksa ibu, tunggu saja"
Rindu, sayang, benci dan dendam menyatu dan timbul-tenggelam bergantian. Aku tak berdaya di buatnya. Tambah lagi wajah kakak yang selalu tergambar yang setiap saat ingin ku racun agar dia mati. Bapak.... kamupun akan mendapat bagian, saya berjanji hari tuamu akanku tinggalkan, ini hadiah yang pantas buat seorang bapak yang pilih kasih.
Masih ku sisakan sekeping kelembutan di hati ini, yang ku berikan pada kakek, kakak perempuanku, ibu tiriku dan keempat adik tiriku.
Setahun setelah aku wisuda tepatnya tahun sembilan belas sembilan-sembilan, aku menikah dan punya putri di tahun dua ribu satu.
Sesuai tradisi di kampungku, bila ada anak baru lahir maka orang tuanya medatangi orang yang mengerti mengenai perbintangan, garis tangan, reinkarnasi dari siapa dan lain sebagainya.
Saya juga mendatangi orang seperti itu, atas saran mertuaku. Sesuai harapan, peramal itu mengatakan bahwa putriku adalah reinkarnasi dari ibuku.
Aku sangat sayang dengan putri mungilku. Putriku putih, cantik dan lucu. Sering aku pandangi wajahnya, ku belai rambutnya dan ku cium keningnya.
Sesekali aku perhatikan sekujur tubuhnya dengan berharap dapat gambaran sosok dan wajah ibu kandungku. Sekali lagi aku kecewa.
Seperti balita pada umumnya, terkadang putrikupun pernah membuat kesalahan kecil, seperti menumpahkan air di kasur karena tangan lemahnya belum terampil memegang gelas. Kesalahan kecil seperti itu telah mampu megingatkan kebencian pada anakku yang dikatakan peramal adalah reinkarnasi ibuku. Lebih lagi kalau aku ingat tuduhan kakakku bahwa ibuku selingkuh dengan Namyang sampai lahir aku. Emosiku meledak-ledak tak terbendung.
Saya menyesal sangat dalam setelah menyiksanya, tapi tetap ku ulangi tanpa kuasa ku kendalikan bila putri kecilku sedikit saja melakukan kesalahan, walau sebenarnya itu bukan kesalahan.
Meyesal lagi, menyiksa lagi. Begitu terus. Sampai akhirnya saya memukul diri sendiri dan berjanji tidak mengulangi lagi. Saya sadar ini anak saya, buah cinta antara saya dan istri saya dan dia adalah anak yang kelahirannya begitu saya harapkan. Walau sekarang saya telah bisa berdamai dengan masa lalu, sekarang saya sudah memiliki keluarga sendiri yang sudah memiliki hidup sediri tanpa tergantung pada siapapun termasuk kakak saya yang kejam.
Saya ambil sisi baiknya, kekejaman kakak saya dan kurangnya kasih sayang bapak saya, membuat saya tangguh, mandiri dan memiliki prinsip : saya berhak bahagia, sayalah penentunya, masa depan lebih penting daripada masa lalu, ini hidup saya, saya tidak tergantung pada siapapun.
Nasi telah jadi bubur, saya telah menyiksa putri yang sangat saya sayangi. Namun setelah saya sadar, saya sangat hati-hati mengelola emosi saya. Saya menyadari bahwa saya terbentuk dari puing-puing kekejaman dan penghinaan kakak dan juga kasih sayang yang berat sebelah dari seorang bapak.
Sekarang di usia saya yang ke lima puluh dua saya memetik buah dari kekejaman saya terhadap anak saya. Anak saya sejak usia enam belas tahun menderita Depresi dan Anxiety. Penyesalan selalu datangnya terlambat, kalau saja waktu bisa di putar balik, saya akan berikan kasih sayang yang tanpa batas pada putri saya.
Nah Ardi... Kamu mestinya lebih bersyukur, bahwa kamu tidak mengalami tragisnya kehidupan seperti yang saya alami.
TAMAT
085357897777
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar