Beberapa waktu lalu, saya menerima telepon dari Mas Adell, menantu Bu Cemii, pemilik sebuah lapak sawit di daerah Gunung Tiga.
"Pak, timbangan
saya kena petir. Bisa ke sini, Pak?" katanya, dengan nada cemas.
Kebetulan hari itu jadwal saya kosong, jadi saya jawab dengan mantap,
"Bisa, Mas."
Sebelum berangkat,
seperti prosedur standar di Nawa Timbangan, saya minta Mas Adel mengirimkan foto semua perangkat yang ada:
loadcell, indikator, CPU, monitor, keyboard, dan printer. Ini penting, supaya
saya bisa menyiapkan spare part yang diperlukan tanpa membuang waktu pelanggan.
Saya sampaikan secara
terbuka bahwa harga satuan loadcell adalah Rp 4 juta. Tak lama kemudian, Mas
Adell menelepon lagi, mengatakan bahwa menurutnya semua loadcell dalam kondisi
baik, hanya perangkat indikator, komputer, dan printer yang rusak.
Dalam hati, ada sedikit
rasa tersinggung. Sebagai seorang teknisi berpengalaman, saya tahu betul bahwa
menilai kondisi loadcell tidak semudah itu. Loadcell bisa sehat, lemah, atau
bahkan mati tanpa tanda-tanda kasat mata. Tapi saya tetap menjaga sikap
profesional: saya tidak memperdebatkannya dan memutuskan untuk fokus pada
permintaan perbaikan perangkat lainnya.
Sebelum berangkat, saya
juga minta dikirimkan serlok via WA. Mas Adel pun mengirimkan lokasi, dan saya
langsung meluncur.
Sesampainya di lokasi,
saya menelepon Mas Adel untuk memberi tahu bahwa saya sudah sampai.
"Sudah sampai di
mana, Pak?" tanyanya heran.
"Tentu saja di lokasi sesuai serlok yang Mas kirim," jawab saya.
Tak saya sangka, Mas
Adel justru mempertanyakan biaya perbaikan, mengatakan ia sudah kirim WA soal
itu saat saya masih dalam perjalanan. Karena saya sedang menyetir, tentu saja
saya belum sempat membaca WA tersebut.
Ini untuk kedua kalinya
saya merasa kurang nyaman. Namun dengan tetap menjaga etika, saya jawab dengan
lembut,
"Kalau Mas Adel keberatan, saya tidak masalah untuk kembali pulang. Saya
tidak akan menuntut biaya transportasi sepeser pun."
Sepertinya setelah itu
Mas Adel menghubungi Bu Cemii. Tak lama, Bu Cemii datang ke lokasi dengan sikap
yang agak dingin. Tapi tetap, beliau mempersilakan saya masuk.
Saya kembali menegaskan:
"Kalau Ibu keberatan, saya siap pulang. Tidak perlu membayar
transportasi."
Setelah berbincang agak
panjang dan terasa adanya rasa curiga dari pihak Bu Cemii, akhirnya saya
diizinkan untuk mengganti CPU, printer, dan indikator yang rusak.
Saat saya mulai bekerja, suasana perlahan berubah. Mungkin karena mereka
melihat kinerja saya yang cepat, rapi, dan sesuai prosedur kerja standar Nawa Timbangan: Cara
Tepat, Kerja Cepat, Hasil Mantap.
Ketika pekerjaan
selesai, Bu Cemii mulai lebih ramah. Bahkan beliau bertanya tentang prosedur
tera timbangan dan biayanya. Saya sarankan agar tera dilakukan bersamaan dengan
timbangan lain di sekitar lokasi supaya biaya lebih hemat.
"Baik, Pak. Nanti
kalau sudah siap, kami hubungi Bapak," kata Bu Cemii, kali ini dengan nada
jauh lebih bersahabat.
Sekilas Kilas Balik...
Sebenarnya, jauh sebelum
kejadian ini, saya sudah mendapat informasi dari Pak Joko, seorang teknisi baik
hati yang pernah menangani timbangan di tempat Bu Cemii.
Pak Joko pernah bercerita, bahwa Bu Cemii pernah melakukan pembayaran tidak
penuh sesuai kesepakatan. "Orangnya ruwet, Pak," katanya saat itu.
Mengingat cerita itu,
makanya saya mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Namun, hari itu
ternyata berjalan cukup baik. Bu Cemii tetap membayar sesuai tagihan resmi yang
saya ajukan. Memang ada sedikit tawar-menawar, tapi itu masih dalam batas
wajar.
Pelajaran berharga hari itu:
Sebagai teknisi dan
mitra terpercaya, kita harus tetap menjaga sikap profesional, apapun sikap awal
pelanggan.
Dengan Nawa Timbangan,
Anda tidak hanya mendapatkan perbaikan alat timbang — Anda mendapatkan layanan
yang cepat, tepat, transparan, dan penuh tanggung jawab.
Nawa Timbangan
Cara
Tepat, Kerja Cepat, Hasil Mantap!
📍 Alamat: Gita Nagari Baru - Kp. Kahuripan, Menggala Timur, Tulang
Bawang, Lampung
📞 Kontak: 0853 5789 7777
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar