Sabtu, 12 Juli 2025

Janji yang Tertunda dari Pak X

Beberapa waktu lalu, saya dipanggil oleh seseorang bernama Pak X. Ia baru saja membeli timbangan seken dari seseorang yang tidak saya kenal. Setelah dicoba, ternyata timbangan itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kata Pak X, ia menduga hanya satu loadcell yang rusak. Tapi saat saya datang dan melakukan pengecekan, saya temukan ternyata ada dua loadcell yang rusak.

Saya sampaikan dengan jujur sejak awal, bahwa harga satu loadcell adalah Rp3.500.000. Ia setuju untuk melanjutkan perbaikan.

Beberapa hari kemudian, perbaikan selesai. Timbangan kembali normal. Tapi saat waktunya membayar, Pak X berkata,

“Pak, saya baru ada uang Rp4.500.000. Sisanya nanti saya transfer sekitar 4 hari lagi, setelah cairan singkong saya dibayar pabrik.”

Saya mengangguk. Tentu saya ingin percaya. Toh, saya juga pernah berada di posisi sulit seperti itu, dan saya paham. Saya pun menunggu.

Namun satu minggu berlalu, tak ada kabar. Hingga tiba-tiba muncul pesan WhatsApp dari nomor baru. Isinya:

“Maaf pak, HP saya rusak karena jatuh dan pecah. Ini saya pakai HP istri saya. Tapi dananya belum ada ya, pak…”

Saya kembali sabar. Empati saya masih bicara. Mungkin memang kondisinya sedang sulit. Maka saya pun menunggu lagi.

Empat hari kemudian, saya kirim pesan ulang ke kedua nomor miliknya.

“Selamat siang Pak X, apakah sudah ada dananya? Mohon ditransfer sisa kekurangannya.”

Ia menjawab lagi.

“Maaf pak, dananya belum ada. Singkong masih antre di pabrik, bahkan ada yang busuk.”

Kali ini saya mulai bimbang. Apakah saya terlalu lunak? Apakah ini benar-benar kondisi sulit, atau ada unsur kesengajaan?

Saya duduk termenung sejenak. Saya tidak marah. Saya hanya… merasa lelah. Bukan hanya soal uangnya, tapi soal rasa kepercayaan yang diuji. Saya selalu ingin menjaga hubungan baik dengan semua pelanggan. Tapi saat kepercayaan tidak dibalas dengan komitmen, saya pun harus bersikap.

Saya pun mengirim pesan dengan nada lebih tegas:

“Pak X, saya paham kondisi Bapak. Tapi pekerjaan saya sudah selesai dan timbangan sudah Bapak pakai. Saya mohon kekurangannya sebesar Rp2.500.000 bisa ditransfer paling lambat hari Senin depan. Jika belum ada, saya akan pertimbangkan langkah selanjutnya.”

Saya tidak ingin memperpanjang masalah. Tapi saya belajar, bahwa dalam dunia usaha — terutama usaha jasa — kita harus pandai menyeimbangkan antara empati dan ketegasan.

Saya tidak tahu apakah Pak X benar-benar kesulitan, atau sekadar mengulur waktu. Tapi saya tahu, saya tidak boleh terus membiarkan “janji yang tertunda” menjadi beban dalam hati.

 

Catatan Penutup

Kisah ini saya tulis bukan untuk membuka aib, apalagi mempermalukan. Tapi sebagai pengingat bahwa dalam usaha, kepercayaan itu mahal. Dan jika kita pernah berhutang, sekecil apapun itu, maka sebaik-baik manusia adalah yang menepati janji.

Saya percaya, siapa pun bisa mengalami kesulitan. Tapi selama masih ada niat baik dan komunikasi yang jujur, semua pasti bisa diselesaikan dengan cara yang baik pula.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar