Beberapa waktu lalu, saya dipanggil oleh seseorang bernama Pak X. Ia baru saja membeli timbangan seken dari seseorang yang tidak saya kenal. Setelah dicoba, ternyata timbangan itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kata Pak X, ia menduga hanya satu loadcell yang rusak. Tapi saat saya datang dan melakukan pengecekan, saya temukan ternyata ada dua loadcell yang rusak.
Saya sampaikan dengan jujur sejak
awal, bahwa harga satu loadcell adalah Rp3.500.000. Ia setuju untuk melanjutkan
perbaikan.
Beberapa hari kemudian, perbaikan
selesai. Timbangan kembali normal. Tapi saat waktunya membayar, Pak X berkata,
“Pak, saya baru ada uang
Rp4.500.000. Sisanya nanti saya transfer sekitar 4 hari lagi, setelah cairan
singkong saya dibayar pabrik.”
Saya mengangguk. Tentu saya ingin
percaya. Toh, saya juga pernah berada di posisi sulit seperti itu, dan saya
paham. Saya pun menunggu.
Namun satu minggu berlalu, tak ada
kabar. Hingga tiba-tiba muncul pesan WhatsApp dari nomor baru. Isinya:
“Maaf pak, HP saya rusak karena
jatuh dan pecah. Ini saya pakai HP istri saya. Tapi dananya belum ada ya, pak…”
Saya kembali sabar. Empati saya
masih bicara. Mungkin memang kondisinya sedang sulit. Maka saya pun menunggu
lagi.
Empat hari kemudian, saya kirim
pesan ulang ke kedua nomor miliknya.
“Selamat siang Pak X, apakah sudah
ada dananya? Mohon ditransfer sisa kekurangannya.”
Ia menjawab lagi.
“Maaf pak, dananya belum ada.
Singkong masih antre di pabrik, bahkan ada yang busuk.”
Kali ini saya mulai bimbang. Apakah
saya terlalu lunak? Apakah ini benar-benar kondisi sulit, atau ada unsur
kesengajaan?
Saya duduk termenung sejenak. Saya
tidak marah. Saya hanya… merasa lelah. Bukan hanya soal uangnya, tapi soal rasa
kepercayaan yang diuji. Saya selalu ingin menjaga hubungan baik dengan semua
pelanggan. Tapi saat kepercayaan tidak dibalas dengan komitmen, saya pun harus
bersikap.
Saya pun mengirim pesan dengan nada
lebih tegas:
“Pak X, saya paham kondisi Bapak.
Tapi pekerjaan saya sudah selesai dan timbangan sudah Bapak pakai. Saya mohon
kekurangannya sebesar Rp2.500.000 bisa ditransfer paling lambat hari Senin
depan. Jika belum ada, saya akan pertimbangkan langkah selanjutnya.”
Saya tidak ingin memperpanjang
masalah. Tapi saya belajar, bahwa dalam dunia usaha — terutama usaha jasa — kita
harus pandai menyeimbangkan antara empati dan ketegasan.
Saya tidak tahu apakah Pak X
benar-benar kesulitan, atau sekadar mengulur waktu. Tapi saya tahu, saya tidak
boleh terus membiarkan “janji yang tertunda” menjadi beban dalam hati.
Catatan
Penutup
Kisah ini saya tulis bukan untuk
membuka aib, apalagi mempermalukan. Tapi sebagai pengingat bahwa dalam usaha, kepercayaan
itu mahal. Dan jika kita pernah berhutang, sekecil apapun itu, maka
sebaik-baik manusia adalah yang menepati janji.
Saya percaya, siapa pun bisa
mengalami kesulitan. Tapi selama masih ada niat baik dan komunikasi yang jujur,
semua pasti bisa diselesaikan dengan cara yang baik pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar