Matahari baru saja menampakkan separuh wajahnya ketika Pak Nawa selesai memeriksa satu per satu alat kerja yang sudah disusun rapi di dalam kotak biru besar. Tang ampere, kabel-kabel cadangan, set kalibrasi digital, indikator baru, dan bahkan obeng kecil-kecil yang biasa diselipkan Mas Yuda di balik kantong seragam, semua tak luput dari pengecekan.
“Mas Yuda, pastikan baterai cadangan kita bawa ya. Indikator yang di Palembang itu katanya suka mati mendadak. Bisa jadi karena daya,” ujar Pak Nawa sambil menyeka keringat dari pelipis. Pagi itu terasa lebih gerah dari biasanya, padahal belum juga jam tujuh.
“Siap, Pak! Udah saya simpen dua set, satu untuk indikator, satu lagi buat laptop,” jawab Mas Yuda, yang baru satu tahun mendampingi Pak Nawa sebagai asisten teknisi. Usianya baru 26 tahun, tapi semangatnya seperti murid baru yang selalu haus pengalaman.
Tak lama kemudian, suara klakson pelan terdengar dari depan rumah. Itu pasti Basir, sopir andalan yang tak pernah absen mengantar perjalanan servis sejak tahun 2014. Mobil pickup L300 hitam itu sudah seperti bagian dari tim.
“Pak, mobil sudah siap,” seru Basir sambil melongok dari jendela.
Pak Nawa tersenyum. “Yuk, kita berangkat. Mas Yuda, kamu duduk depan biar bisa bantu navigasi.”
Kantor Nawa Timbangan yang terletak di Gita Nagari Baru, Kampung Kahuripan, Menggala Timur, Tulang Bawang, Lampung, menjadi titik awal dari sebuah perjalanan yang bukan sekadar perjalanan servis. Bagi tim kecil ini, setiap proyek adalah misi membangun kepercayaan.
Perjalanan dari Tulang Bawang menuju Palembang bukan perkara mudah. Sekitar delapan jam perjalanan darat, melewati jalanan berliku dan kadang berlubang, namun penuh cerita. Di dalam mobil, suasana penuh canda. Basir membuka pembicaraan dengan gaya khasnya.
“Pak, nanti di Palembang jangan lupa makan pindang tulang, ya. Katanya pedesnya bisa bikin hidup lagi.”
Mas Yuda tertawa. “Yang hidup nanti bukan cuma perut, Pak. Timbangan di sana juga harus hidup lagi.”
Pak Nawa ikut tertawa kecil. “Amin. Tapi yang paling penting, jangan sampai kita hidup-hidup dimarahin Pak Mulyanto kalau timbangan gak bisa dipakai.”
Tawa pecah di dalam kabin mobil. Namun di balik canda, mereka paham satu hal: misi ini serius.
Memasuki jam ketiga, hujan mulai turun tipis. Mobil perlahan melewati kawasan perkebunan sawit, aroma tanah basah menyelimuti suasana. Pak Nawa terdiam sejenak, menatap keluar jendela.
Sudah hampir dua dekade ia berkutat di dunia timbangan. Dari hanya teknisi perusahaan orang lain, kini ia punya nama, punya tim, dan dua lapak singkong yang setiap harinya memakai jasa timbangannya sendiri.
"Pak," suara Yuda memecah keheningan, "kalau dulu belum punya usaha, pernah kebayang bisa punya klien sampai Palembang?"
Pak Nawa tersenyum tipis. "Dulu? Jangan kan Palembang, Mas. Dapat servis di kampung sebelah aja udah syukur. Tapi ya gitu, yang penting jangan berhenti belajar dan nyoba."
Menjelang sore, mereka tiba di lapak sawit milik Pak Mulyanto. Pria paruh baya itu menyambut dengan senyum lebar.
“Wah, akhirnya datang juga tim super dari Lampung,” ujarnya. “Ayo masuk dulu, nanti malam kita mulai kerja, biar gak kepanasan.”
Di ruang tamu sederhana, teh manis hangat dan pisang goreng hangus sedikit—favorit Basir—menjadi sajian pembuka. Tapi pikiran Pak Nawa sudah tertuju pada pekerjaan.
Timbangan jenis pit type itu sudah 12 tahun digunakan. Indikator digitalnya sering mati mendadak, pembacaan berat tidak akurat, dan sistem grounding-nya tampak usang.
“Malam ini kita cek kabel dan indikator. Besok pagi kita kalibrasi. Mas Yuda, konektor cadangan jangan lupa. Biasanya titik lemahnya di situ,” ujar Pak Nawa tegas.
Hujan deras mengguyur malam itu. Tapi semangat mereka tak surut. Dengan senter kepala dan jaket hujan, mereka membuka panel satu per satu, mengganti kabel, membersihkan karat, dan menguji indikator baru.
“Pak, ini indikator lama bisa nyala kalau diketuk,” kata Yuda sambil mencoba.
Pak Nawa geleng kepala. “Itu bukan nyala, Mas. Itu protes.”
Tawa meledak lagi. Di tengah malam yang dingin, semangat dan canda jadi bahan bakar.
Pagi menjelang, mereka melakukan kalibrasi menggunakan beban uji 20 ton dari truk Pak Mulyanto. Setelah pengujian teliti, timbangan berhasil membaca presisi hingga dua digit terakhir.
“Pak Nawa, luar biasa. Biasanya tukang servis lain cuma ganti indikator. Bapak periksa kabel, konektor, grounding… lengkap. Saya terharu,” ucap Pak Mulyanto.
Pak Nawa hanya tersenyum. “Timbangan itu jantung usaha, Pak. Kalau nggak berdetak benar, usaha bisa mati pelan-pelan.”
Perjalanan pulang lebih tenang. Di tengah jalan, mereka mampir di sebuah warung kecil beratap seng. Kopi hitam dan mie rebus menjadi penghangat. Di sela santai, Pak Nawa membuka buku catatan usang.
“Ini catatan servis saya sejak 2007,” katanya. “Dulu naik ojek ke lapangan, bawa alat seadanya.”
Yuda terkesima. “Kalau hujan, basah semua dong?”
“Sering. Pernah indikator pinjaman kehujanan sampai konslet. Saya ganti pakai uang sendiri, padahal cuma punya sisa lima puluh ribu waktu itu.”
Mas Yuda terdiam. Ia semakin kagum. Hari-harinya bersama Pak Nawa kini terasa bukan sekadar kerja, tapi sekolah kehidupan.
Di tengah perjalanan, Pak Nawa berkata pelan tapi dalam, “Mas, tahu nggak? Nama baik itu seperti timbangan. Sekali rusak, orang nggak percaya lagi sama angka kita.”
“Betul, Pak. Apalagi kalau urusannya uang,” jawab Yuda serius.
“Makanya, walau servis kecil, harus tetap teliti. Bukan soal besar kecilnya proyek, tapi besar kecilnya kepercayaan yang dititipkan.”
Dua hari kemudian, Pak Nawa menerima telepon.
“Assalamualaikum, ini Pak Nawa ya?”
“Waalaikumsalam. Iya, betul.”
“Saya Bu Ira, adik Pak Mulyanto. Saya dengar soal servis Bapak. Sekarang saya urus timbangan di pabrik kopi kecil di Muara Enim. Boleh bantu kami juga?”
Pak Nawa tersenyum lebar. Bukan soal proyek baru, tapi karena ia tahu: kerja sungguh-sungguh selalu membuahkan hasil.
Dari Tulang Bawang ke Palembang, dari kabel ke konektor, dari obrolan ringan di warung ke panggilan kepercayaan berikutnya, Nawa Timbangan bukan sekadar jasa teknisi. Ini tentang dedikasi.
Nawa Timbangan – Cara Tepat, Kerja Cepat, Hasil Mantap, Jujur dan Bertanggung Jawab.
📍 Kantor: Gita Nagari Baru, Kp. Kahuripan, Menggala Timur, Tulang Bawang, Lampung
📞 HP. 0853 5789 7777
Kalau Anda sedang mencari teknisi timbangan yang bukan cuma bisa memperbaiki, tapi juga menjaga kepercayaan bisnis Anda—Nawa Timbangan jawabannya.
Semoga kisah ini jadi penyemangat. Jika Anda sedang merintis, ingatlah: jalan sunyi hari ini bisa jadi jalan tol bagi generasi setelah kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar